Hubungi Kami
Phone: (62-21) 75910212
Fax: (62-21) 75915759
Email: info@mizan.com

 

  Home About Us Ekuator E-Magazine Buku Laris Buku Baru Contact us
Cari:     pada     
 
bag_atas.html
       >>  Katalog
       >>  Newsletter
       >>  Audio Files
       >>  Video Files
       >>  E-books
       >>  Nukilan
 
Mizan Golden Globe Awards
  Edisi 1 November 2007
 Pemred: Hernowo
 >>  Artikel Lainnya
 >>  Newsletter
Masukkan email Anda guna mendapatkan berita terbaru Ekuator e-Magazine untuk setiap edisi terbarunya.

 
 >>  Arsip tahun 2010
Pilih Edisi:
 
 >>  Arsip per tahun:
2007 | 2008 | 2009 | 2010
MEMBACA UNTUK MENGUBAH DIRI-MATE
E-Magazine --  PLONG!  ( apa itu rubrik PLONG!  ?)

MEMBACA UNTUK MENGUBAH DIRI-MATERIAL (JASMANIAH) MENJADI DIRI-SPIRITUAL (RUHANIAH)
Oleh Hernowo

"Bertafakur satu saat lebih baik daripada ibadah satu tahun." NABI MUHAMMAD SAW.

Saya mengimpikan ada satu tempat yang dapat melatih anak-anak kita untuk membaca secara kontinu dan konsisten yang akhirnya kegiatan membaca tersebut menjadi salah satu kebiasaan mereka yang mengasyikkan hingga mereka dewasa kelak. Tentu, kegiatan membaca yang saya maksud bukan sekadar membaca huruf, deretan kalimat, atau pun sebuah cerita. Membaca seperti ini, jika dibiasakan, sesungguhnya sudah sangat bagus. Namun, kegiatan membaca yang saya maksud adalah kegiatan membaca yang membawa seseorang menjadi manusia yang suka bertafakur.

Saya percaya bahwa ayat pertama yang turun kepada Rasulullah Saw."iqra" bismi rabbikal-ladzi khalaq"adalah ayat yang jika diamalkan secara kontinu dan konsisten dapat mentransformasi diri seseorang. Transformasi tersebut bukan hanya mengubah sikap atau menambah wawasan. Saya yakin sekali bahwa iqra""sekali lagi yang diamalkan secara konstinu dan konsisten"dapat mengubah diri yang bersifat material menjadi diri yang bersifat spiritual. Apa yang saya katakan ini merujuk ke ayat ketiga Surah Al-`Alaq yang berbunyi iqra" wa rabbukal-akram.

Menurut tafsiran Ustad Quraish Shihab, al-akram dalam ayat tersebut mengandung pengertian bahwa Tuhan dapat menganugerahkan puncak dari segala yang terpuji bagi setiap hamba-Nya, terutama dalam kaitannya dengan perintah membaca. Hal ini dikarenakan kata al-akram, yang berbentuk superlatif, adalah satu-satunya ayat di dalam Al-Quran yang menyifati Tuhan dalam bentuk tersebut. Jadi, betapa berharganya perintah membaca"yang diletakkan oleh Tuhan di urutan pertama ketika menurunkan Al-Quran"bagi umat Islam. Tanpa membaca, mustahil seorang Muslim dapat meraih anugerah bernama al-akram.

Apa wujud konkret dari al-akram? Menurut pengalaman saya, pertama, hanya dengan membaca kita dapat menjalankan kegiatan menulis yang ringan dan lancar serta mendapatkan banyak sekali manfaat. Apa manfaat menulis? Menulis dapat "mengikat ilmu", menyebarkan ilmu secara efektif, dan membagi kebahagiaan kepada orang lain yang jauh. Kedua, hanya dengan membaca secara kontinu dan konsisten, kita dapat"sebagaimana diteliti oleh banyak sekali ahli saraf otak"menjaga kebugaran otak kita. Menurut Dr. Edward Coffey, peneliti otak di Henry Ford Health System, kegiatan membaca dapat menghindarkan seseorang dari penyakit demensia (rusaknya jaringan saraf otak). Dan ketiga, hanya kegiatan membaca yang dapat melatih seseorang untuk berkonsentrasi dalam berpikir, berpikir secara cermat, dan berpikir dalam tingkat yang sangat tinggi (bertafakur).

Saya tidak ingin menghindar dari fakta bahwa, pada zaman sekarang, kegiatan membaca, sepertinya, kadung dipersepsi sebagai kegiatan yang berat dan membebani. "Musuh-musuh" membaca bertebaran bak cendawan di musim hujan. Bahkan, secara sangat agresif, "musuh-musuh" membaca tersebut begitu halus memasuki ruang-ruang privat setiap keluarga. Saya tak ingin secara eksplisit menunjukkan siapa sosok yang dapat diidentifikasikan sebagai "musuh-musuh" membaca. Saya hanya ingin mengajak Anda untuk merenung sejenak dan bertanya kepada diri sendiri, "Sudahkah membaca menjadi kegiatan penting keseharian yang mengasyikkan diri dan anggota keluarga kita?"

Saya memiliki konsep membaca yang saya padukan dengan kegiatan menulis yang saya namai "mengikat makna". Lewat penerapan konsep ini, saya berhasil mengubah beban membaca dan menulis menjadi sebuah kegiatan yang ringan-mengasyikkan. Bukan hanya saya kemudian keranjingan membaca, namun dari kegiatan membaca tersebut saya pun dapat menghasilkan tulisan yang memberdayakan diri saya. Saya ingin membagikan pengalaman saya tersebut kepada siapa saja yang ingin menjadikan kegiatan membaca sebagai kegiatan yang dapat mengubah diri-material menjadi diri-spiritual. Saya yakin bahwa inti perintah membaca dalam ayat pertama Surah Al-`Alaq adalah mengajak kita untuk mau dan mampu membiasakan bertafakur.

"Mengikat makna" memiliki hukum bahwa membaca memerlukan menulis ("mengikat"/menuliskan sesuatu sebagai hasil membaca) dan menulis memerlukan membaca. Ketika kita selesai membaca dan kemudian meninggalkan buku yang kita baca atau kita hanya sempat menggarisbawahi atau memberi stabilo tentang hal-hal mengesankan yang kita baca, maka ada kemungkinan besar yang kita baca tentu akan cepat hilang atau kita lupakan. Bayangkan apabila, usai membaca, kita merenungkan sejenak hasil kegiatan membaca kita dan kemudian "mengikat" pelbagai makna yang kita peroleh. Anda akan tercengang atau takjub karena kegiatan membaca, jika hasilnya "diikat", akan memproduksi sesuatu yang konkret (yaitu hasil tulisan).

Kemudian bayangkan pula Anda ingin menulis suatu gagasan hebat yang tiba-tiba berkelebatan di benak Anda. Anda sudah sangat bersemangat dan, sepertinya, sudah siap menumpahkan seluruh gagasan hebat tersebut ke layar monitor komputer Anda. Namun, ternyata tidak ada kalimat yang bisa Anda susun. Jika toh ada kalimat yang muncul, kalimat itu pun tidak mengalir lancar. Bahkan, yang kadang sangat menyiksa, gagasan hebat itu seperti ingin tumpah tetapi tidak ada kata-kata yang menampungnya. Anda macet. Anda kehabisan kata-kata. Keadaan seperti ini sering terjadi bagi yang ingin memulai menulis. Sayangnya, mereka kadang tak tahu penyebabnya.

Nah, lewat "mengikat makna" Anda akan tahu bahwa penyebab kemacetan menulis sesungguhnya terletak pada miskinnya bahasa yang ada di dalam diri Anda. Jelas sekali bahwa penyebab diri Anda menjadi miskin bahasa karena kurang banyak membaca. Atau, sesungguhnya, Anda sudah hobi dan banyak membaca. Namun, karena tidak dilanjutkan dengan "mengikat makna", tetap saja Anda tidak menjadi kaya bahasa. Dengan "mengikat makna", sebagaimana ditunjukkan di atas, Anda bisa mengetahui apakah diri Anda memang telah menjalankan kegiatan membaca secara benar dan kegiatan membaca Anda menghasilkan sesuatu yang konkret atau tidak. Jika kegiatan membaca Anda memang benar dan sangat tertata, pastilah ketidaklancaran dan kesulitan menulis dapat teratasi.

"Mengikat makna" tidak memerlukan keahlian khusus atau pengetahuan yang tinggi. Untuk menjalankan "mengikat makna" dalam bentuk yang memberdayakan diri Anda, Anda hanya perlu KEMAUAN untuk menjalankannya secara perlahan-lahan namun dibiasakan setiap hari. Setiap hari Anda pasti membaca. "Mengikat makna" tidak mensyaratkan harus membaca buku. Ketika Anda membaca koran, majalah, pengumuman, atau hal-hal lain yang penyerapannya dibantu oleh sederetan teks, Anda sesungguhnya telah membaca dalam perspektif "mengikat makna". Hanya, itu baru separuh jalan dalam "mengikat makna". Separuhnya lagi perlu Anda genapi dengan "mengikat"/menuliskan makna yang Anda peroleh dari kegiatan membaca.

Itu saja. Dan saya yakin, dengan membiasakan "mengikat makna""cukup 10-15 menit setiap hari"diri material Anda akan berubah menjadi diri spiritual yang menakjubkan! Ajak putra-putri Anda untuk mengenali diri spiritualnya lewat "mengikat makna".

Semoga bermanfaat.

Copyright © 2007 Mizan Publishing House -- Designed  and developed by  PT.Global e-Solusi  
4054331 pengunjung hingga saat ini