MEMBACA UNTUK MENGUBAH DIRI-MATE
|
E-Magazine -- PLONG!
(
apa itu rubrik PLONG! ?) |
MEMBACA UNTUK
MENGUBAH DIRI-MATERIAL (JASMANIAH) MENJADI DIRI-SPIRITUAL
(RUHANIAH)
Oleh Hernowo
"Bertafakur satu saat lebih baik daripada ibadah satu tahun."
NABI
MUHAMMAD SAW.
Saya mengimpikan
ada satu tempat yang dapat melatih anak-anak kita untuk membaca secara kontinu
dan konsisten yang akhirnya kegiatan membaca tersebut menjadi salah satu
kebiasaan mereka yang mengasyikkan hingga mereka dewasa kelak. Tentu, kegiatan
membaca yang saya maksud bukan sekadar membaca huruf, deretan kalimat, atau pun
sebuah cerita. Membaca seperti ini, jika dibiasakan, sesungguhnya sudah sangat
bagus. Namun, kegiatan membaca yang saya maksud adalah kegiatan membaca yang
membawa seseorang menjadi manusia yang suka bertafakur.
Saya percaya bahwa
ayat pertama yang turun kepada Rasulullah Saw."iqra" bismi rabbikal-ladzi
khalaq"adalah ayat yang jika diamalkan secara kontinu dan konsisten dapat
mentransformasi diri seseorang. Transformasi tersebut bukan hanya mengubah sikap
atau menambah wawasan. Saya yakin sekali bahwa iqra""sekali lagi yang
diamalkan secara konstinu dan konsisten"dapat mengubah diri yang bersifat
material menjadi diri yang bersifat spiritual. Apa yang saya katakan ini merujuk
ke ayat ketiga Surah Al-`Alaq yang berbunyi iqra" wa rabbukal-akram.
Menurut tafsiran
Ustad Quraish Shihab, al-akram dalam ayat tersebut mengandung pengertian
bahwa Tuhan dapat menganugerahkan puncak dari segala yang terpuji bagi setiap
hamba-Nya, terutama dalam kaitannya dengan perintah membaca. Hal ini dikarenakan
kata al-akram, yang berbentuk superlatif, adalah satu-satunya ayat di
dalam Al-Quran yang menyifati Tuhan dalam bentuk tersebut. Jadi, betapa
berharganya perintah membaca"yang diletakkan oleh Tuhan di urutan pertama ketika
menurunkan Al-Quran"bagi umat Islam. Tanpa membaca, mustahil seorang Muslim
dapat meraih anugerah bernama al-akram.
Apa wujud konkret
dari al-akram? Menurut pengalaman saya, pertama, hanya dengan
membaca kita dapat menjalankan kegiatan menulis yang ringan dan lancar serta
mendapatkan banyak sekali manfaat. Apa manfaat menulis? Menulis dapat "mengikat
ilmu", menyebarkan ilmu secara efektif, dan membagi kebahagiaan kepada orang
lain yang jauh. Kedua, hanya dengan membaca secara kontinu dan konsisten,
kita dapat"sebagaimana diteliti oleh banyak sekali ahli saraf otak"menjaga
kebugaran otak kita. Menurut Dr. Edward Coffey, peneliti otak di Henry Ford
Health System, kegiatan membaca dapat menghindarkan seseorang dari penyakit
demensia (rusaknya jaringan saraf otak). Dan ketiga, hanya kegiatan
membaca yang dapat melatih seseorang untuk berkonsentrasi dalam berpikir,
berpikir secara cermat, dan berpikir dalam tingkat yang sangat tinggi (bertafakur).
Saya tidak ingin
menghindar dari fakta bahwa, pada zaman sekarang, kegiatan membaca, sepertinya,
kadung dipersepsi sebagai kegiatan yang berat dan membebani. "Musuh-musuh"
membaca bertebaran bak cendawan di musim hujan. Bahkan, secara sangat agresif,
"musuh-musuh" membaca tersebut begitu halus memasuki ruang-ruang privat setiap
keluarga. Saya tak ingin secara eksplisit menunjukkan siapa sosok yang dapat
diidentifikasikan sebagai "musuh-musuh" membaca. Saya hanya ingin mengajak Anda
untuk merenung sejenak dan bertanya kepada diri sendiri, "Sudahkah membaca
menjadi kegiatan penting keseharian yang mengasyikkan diri dan anggota keluarga
kita?"
Saya memiliki
konsep membaca yang saya padukan dengan kegiatan menulis yang saya namai
"mengikat makna". Lewat penerapan konsep ini, saya berhasil mengubah beban
membaca dan menulis menjadi sebuah kegiatan yang ringan-mengasyikkan. Bukan
hanya saya kemudian keranjingan membaca, namun dari kegiatan membaca tersebut
saya pun dapat menghasilkan tulisan yang memberdayakan diri saya. Saya ingin
membagikan pengalaman saya tersebut kepada siapa saja yang ingin menjadikan
kegiatan membaca sebagai kegiatan yang dapat mengubah diri-material menjadi diri-spiritual.
Saya yakin bahwa inti perintah membaca dalam ayat pertama Surah Al-`Alaq adalah
mengajak kita untuk mau dan mampu membiasakan bertafakur.
"Mengikat makna"
memiliki hukum bahwa membaca memerlukan menulis ("mengikat"/menuliskan sesuatu
sebagai hasil membaca) dan menulis memerlukan membaca. Ketika kita selesai
membaca dan kemudian meninggalkan buku yang kita baca atau kita hanya sempat
menggarisbawahi atau memberi stabilo tentang hal-hal mengesankan yang kita baca,
maka ada kemungkinan besar yang kita baca tentu akan cepat hilang atau kita
lupakan. Bayangkan apabila, usai membaca, kita merenungkan sejenak hasil
kegiatan membaca kita dan kemudian "mengikat" pelbagai makna yang kita peroleh.
Anda akan tercengang atau takjub karena kegiatan membaca, jika hasilnya "diikat",
akan memproduksi sesuatu yang konkret (yaitu hasil tulisan).
Kemudian bayangkan
pula Anda ingin menulis suatu gagasan hebat yang tiba-tiba berkelebatan di benak
Anda. Anda sudah sangat bersemangat dan, sepertinya, sudah siap menumpahkan
seluruh gagasan hebat tersebut ke layar monitor komputer Anda. Namun, ternyata
tidak ada kalimat yang bisa Anda susun. Jika toh ada kalimat yang muncul,
kalimat itu pun tidak mengalir lancar. Bahkan, yang kadang sangat menyiksa,
gagasan hebat itu seperti ingin tumpah tetapi tidak ada kata-kata yang
menampungnya. Anda macet. Anda kehabisan kata-kata. Keadaan seperti ini sering
terjadi bagi yang ingin memulai menulis. Sayangnya, mereka kadang tak tahu
penyebabnya.
Nah, lewat
"mengikat makna" Anda akan tahu bahwa penyebab kemacetan menulis sesungguhnya
terletak pada miskinnya bahasa yang ada di dalam diri Anda. Jelas sekali bahwa
penyebab diri Anda menjadi miskin bahasa karena kurang banyak membaca. Atau,
sesungguhnya, Anda sudah hobi dan banyak membaca. Namun, karena tidak
dilanjutkan dengan "mengikat makna", tetap saja Anda tidak menjadi kaya bahasa.
Dengan "mengikat makna", sebagaimana ditunjukkan di atas, Anda bisa mengetahui
apakah diri Anda memang telah menjalankan kegiatan membaca secara benar dan
kegiatan membaca Anda menghasilkan sesuatu yang konkret atau tidak. Jika
kegiatan membaca Anda memang benar dan sangat tertata, pastilah ketidaklancaran
dan kesulitan menulis dapat teratasi.
"Mengikat makna"
tidak memerlukan keahlian khusus atau pengetahuan yang tinggi. Untuk menjalankan
"mengikat makna" dalam bentuk yang memberdayakan diri Anda, Anda hanya perlu
KEMAUAN untuk menjalankannya secara perlahan-lahan namun dibiasakan setiap hari.
Setiap hari Anda pasti membaca. "Mengikat makna" tidak mensyaratkan harus
membaca buku. Ketika Anda membaca koran, majalah, pengumuman, atau hal-hal lain
yang penyerapannya dibantu oleh sederetan teks, Anda sesungguhnya telah membaca
dalam perspektif "mengikat makna". Hanya, itu baru separuh jalan dalam "mengikat
makna". Separuhnya lagi perlu Anda genapi dengan "mengikat"/menuliskan makna
yang Anda peroleh dari kegiatan membaca.
Itu saja. Dan
saya yakin, dengan membiasakan "mengikat makna""cukup 10-15 menit setiap hari"diri
material Anda akan berubah menjadi diri spiritual yang menakjubkan! Ajak
putra-putri Anda untuk mengenali diri spiritualnya lewat "mengikat makna".
Semoga bermanfaat.
|