|
Cinta di Simpang Jalan Oleh Kurn
Cinta di Simpang Jalan
Oleh Kurnia Effendi
Aku jatuh hati pada Laura Basuki!
Itulah yang kurasakan setelah menonton film 3 Hati, Dua Dunia, Satu Cinta,
persembahan Mizan Productions pada 10 dan 15 Juni 2010. Ternyata tak hanya Rosid
(Reza Rahadian) yang terpesona kepada Delia (Laura Basuki), aku pun meleleh
dibuatnya. Perannya yang penuh konflik, baik internal maupun eksternal, nyaris
tanpa cacat. Dalam mengukur sebuah film, bagus atau buruk, aku biasa menyiapkan
rongga dada sebagai tabula rasa. Apabila sekat-sekat di dalamnya mulai bereaksi,
sesak karena menanggung turbulensi perasaan, menyeret dan menghanyutkan,
kuanggap film itu berhasil membawaku pada spektrum nilai positif.
|

Laura Basuki (berdiri) pemeran Delia. |
Sebenarnya film ini bercerita tentang apa? Tak
jauh dari persoalan cinta—yang menurutku belum selesai di bumi ini—sebagai tema
paling universal. Namun dalam film karya Benni Setiawan (sebagai penulis
skenario dan sutradara) ini, cinta diberangkatkan dari titik yang sejak awal
sesungguhnya sudah disadari mengandung risiko. Rosid seorang pemuda idealis,
Muslim keturunan Arab yang memilih jalan hidup sebagai seniman dengan tokoh
idola penyair besar Indonesia, W.S. Rendra. Sosok dan gayanya itu telah membuat
Delia, seorang gadis Manado Katolik, terpikat. Mereka saling jatuh cinta dengan
perbedaan keyakinan yang membawa pasang-surut emosi. Sebab selanjutnya, keluarga,
sahabat, dan bahkan lingkungan, turut campur dalam perjalanan cinta mereka.
Friksi dalam proses percintaan mereka berkembang dengan baik justru karena
masing-masing keluarga berada pada kondisi taat, fanatik, jauh dari sikap
moderat. Dan cerita dibuat lebih kompleks dengan masuknya 1 hati lagi, Nabila
(yang diperankan oleh Arumi Bachsin), meskipun tidak didasari cinta yang
natural. Upaya masing-masing orang tua untuk memisahkan Rosid dan Delia, justru
kian memperkuat akar-akar cinta mereka. Walaupun kemudian kita tahu, perjuangan
atas cinta itu lebih kerap muncul pada Delia. Dalam diri Rosid, tampak
dibimbangkan oleh pelbagai pertimbangan, termasuk pengetahuannya yang mulai
terbuka mengenai pernikahan antaragama. Dan aku sangat terkesan dengan
pernyataan Delia: “…tapi gua tetap ingin menjalani hidup seperti yang
gua mau.” Di tengah teman-temannya, di restoran temaram ketika hujan
mengguyur di luar, dan mata berkaca-kaca, Delia tidak berteriak. Tetapi aku tahu,
ia sedang berikrar.
Sebagai tontonan, film ini cukup komprehensif karena selain mengusung topik
perbedaan keyakinan, di dalamnya ada pesan dan kritik tersirat yang diangkat
dari kondisi masyarakat saat ini. Mungkin ada yang tersindir oleh adegan
penggerebekan para pemuda Islam terhadap komunitas yang dianggap menganut aliran
sesat. Di sisi lain, ada kepedulian seorang seniman terhadap pendidikan anak
jalanan. Pun praktik mendekati musyrik yang kerap ditempuh justru oleh kalangan
agamis demi mencapai hasrat tertentu.
Lebih dari sekadar mengelola perasaan antarmanusia dalam urusan cinta (yang
kadang-kadang sampai pada batas sakit), film ini didedikasikan untuk W.S. Rendra
sebagai penyair legendaris. Rosid yang tidak melanjutkan kuliah tetapi terjun
sebagai jurnalis freelance dan aktif berkesenian itu sangat mengagumi
Rendra. Ditandai dengan poster pertunjukan dan buku-buku Rendra yang dimilikinya,
juga betapa gandrungnya ia terhadap puisi-puisi si Burung Merak itu.

Reza Rahadian dan Zainal Abidin Domba di tengah-tengah para penggemarnya |
Konon, film ini mengalami beberapa revisi adegan
demi menghilangkan kejanggalan barang sedikit. Menurut Gangsar Sukrisno, sebagai
co-producer yang terlibat cukup intens sepanjang proses, membocorkan
beberapa hal, bahwa Haidar Bagir (Direktur Utama Mizan Group yang menjadi
eksekutif produser) begitu jeli dalam mengemas film 3 Hati sampai ke
hal-hal kecil. Menurutku, ia tentu menjadi narasumber terbaik mengenai tradisi
dan budaya Arab di Indonesia. Mulai soal warrna peci, sebutan kepada orang tua,
siapa saja kalangan yang boleh masuk ke ruang-ruang pribadi keluarga Arab, dan
banyak lagi.
Seperti pertanyaan yang dajukan dalam teaser film ini: “Will they live
happily ever after?” Adakah yang mampu menjawab? Perubahan sikap masing-masing
tokoh, sesuai dengan karakter dasar mereka, cukup menarik. Arus itu mendorong
pada pemahaman-pemahaman baru tentang perbedaan. Terlebih mengenai nilai
pengorbanan perasaan yang paling hakiki. Dan itu dialami oleh semua yang
berperan: Mansur dan Muzna (orang tua Rosid), Frans dan Martha (orang tua
Delia), Nabila, dan yang paling merasakan konflik batin terdalam, Rosid dan
Delia.
Humor di sana-sini telah menyegarkan perjalanan film dengan plot yang mengalir
tanpa hambatan. Artistik demikian tepat memadupadankan suasana hati dengan
peristiwa, romantisme dihadirkan pada sisi-sisi yang tepat. Thoersi Argeswara,
menghiasi dengan musik yang elegan.
Setelah dua kali menyaksikan film 3 Hati, perasaanku tidak sangsi lagi,
aku memang jatuh hati pada Delia. Lihat mata Laura Basuki, di sana menggenang
cinta. Lihat seluruh ekspresi wajahnya terutama saat ia berjuang melawan semua
impitan yang mengepungnya. Dan, akhirnya, bagaimana ketika ia bisa tersenyum,
menertawakan takdir, sambil berurai air mata; tetapi di dalam sana, aku tahu,
ada afirmasi yang sedang membangun setiap keping kegelisahannya menjadi sebuah
keputusan terindah.
|

Arumi Baschin pemeran Nabila |
Aku ingin menutup kesan dan apresiasiku ini
dengan sebuah puisi.
Cinta Tanpa Prasangka
Aku berdiri di sini, ingin seperti matahari
Tulus membagi cinta kepada bumi dengan kekayaan cahaya
Berpegang teguh pada janji, menciptakan pagi demi pagi
Tentu tak seperkasa itu rentang kedua belah tanganku
Andai ingin merengkuh seluruh yang kukasihi
Sepanjang waktu bersamamu, dalam guguran berjuta rintik waktu
Ternyata tak cukup luas bengawan jiwaku untuk meletakkan perahu
Tempat kita berdayung dan selalu ingin menagih kasih
Hanya untuk memenuhi hasratku, sebagai milikku sendiri
Tanpa memahami ke hilir mana kita mengalir
Semoga tak terlambat menyadari perasaan-perasaan ini
Untuk sesegera mungkin melepaskan kutukan cinta yang angkuh
Membara di satu tempat dan padam di semesta yang lain
Kukatakan di sini: ingin kuhangatkan gairah kasih bagi seluruh mata angin
Semua akan kembali ke dalam pelukan lebih dari yang kuberikan
Aku berdiri di sini, ingin meniru keluasan samudra
Ikhlas menerima hibah masalah dari semua arus sungai
Membalas dengan kemurnian air hujan dari perasan tubuhnya
Tentu tak semegah itu himpunan rindu yang membentuk jiwaku
Bila selalu tergoda untuk mencintai dan menguasai
O betapa ringan langkahku menerabas hidup yang serbaragam
Telah kubebaskan diriku dari jerat pikiran yang sempit
Alangkah mahal harga kearifan untuk memahami perbedaan
Bukankah kita tak pernah tahu wujud kebenaran di tengah kebimbangan?
Selama masih berpilih kasih dalam mengulurkan jemari cinta
Selamat datang cinta yang tak terhalang prasangka
Cinta yang menyembuhkan luka,
menjalin yang terberai,
memadukan setiap perbedaan,
menyuarakan kedamaian dan menghapus permusuhan,
menumbuhkan silaturahmi,
melenyapkan batas keyakinan,
menghidupkan kepedulian
Cinta yang kini merekah di atas singgasana kemanusiaanku
Ingin kupandang dengan kejernihan matahati
Kenang, kenanglah kekasihku
Semua yang lalu tak kan hilang, menggenang kekal dalam keindahan[]
|