0

Enter your keyword

Sejarah dan Fakta Dibalik Hari Bahasa Ibu Internasional

Sejarah dan Fakta Dibalik Hari Bahasa Ibu Internasional

Sejarah dan Fakta Dibalik Hari Bahasa Ibu Internasional

Tahukah Sahabat Mizan bahwa tanggal 21 Februari dinyatakan sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional oleh UNESCO. Hari Bahasa Ibu Internasional sebenarnya bermula dari pengakuan internasional terhadap Hari Gerakan Bahasa yang dirayakan di Bangladesh.

UNESCO, sebagai badan PBB yang mengurusi bidang kebudayaan dan pendidikan, mengajak negara-negara di seluruh dunia untuk ikut merayakan hari tersebut sebagai pengingat bahwa keragaman bahasa dan multilingualisme adalah aspek penting untuk pembangunan berkelanjutan. Hal ini sesuai dengan tema tahun ini, yakni “Keanekaragaman Bahasa dan Multilingualisme Diperhitungkan untuk Pembangunan Berkelanjutan”. UNESCO telah merayakan Hari Bahasa Ibu Internasional selama hampir 20 tahun dengan tujuan untuk melestarikan keanekaragaman bahasa dan mempromosikan pendidikan multibahasa berbasis bahasa ibu.

 

Apa Itu Bahasa Ibu?

Penguasaan bahasa seorang anak dimulai dengan perolehan bahasa pertama yang disebut bahasa ibu (B1). Pemerolehan bahasa merupakan sebuah proses yang sangat panjang—sejak anak belum mengenal sebuah bahasa sampai fasih berbahasa. Setelah bahasa ibu diperoleh, maka pada usia tertentu anak bisa mulai mempelajari bahasa lain atau bahasa kedua (B2). Bahasa kedua itu pun akan melengkapi khazanah pengetahuan yang dimilikinya. Contohnya, kita yang berbahasa ibu bahasa daerah akan mulai mengenal bahasa Indonesia saat memasuki jenjang pendidikan formal di tingkat dasar.

Pelestarian keanekaragaman bahasa dan promosi pendidikan multibahasa berbasis bahasa ibu adalah hal yang penting. Hal ini karena keanekaragaman bahasa semakin terancam karena semakin banyak bahasa yang hilang. Satu bahasa menghilang rata-rata setiap dua minggu, dengan mengambil seluruh warisan budaya dan intelektual.

 

Indonesia dan Keragaman Bahasa

Kita patut berbangga karena jumlah bahasa di Indonesia terbesar kedua di dunia setelah Papua Nugini. Pada beberapa negara lain, penetapan bahasa nasional bisa menjadi bahan konflik berkepanjangan. Kita beruntung tak mengalami hal itu. Padahal, ada 700-an bahasa di Indonesia. Bahasa daerah (tidak termasuk dialek dan subdialek) di Indonesia yang telah diidentifikasi dan divalidasi sebanyak 652 bahasa dari 2.452 daerah pengamatan.

Jika berdasarkan akumulasi persebaran bahasa daerah per provinsi, bahasa-bahasa di Indonesia berjumlah 733. Bahasa di wilayah Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat belum semua teridentifikasi. Fakta ini merujuk pada hasil penelitian untuk pemetaan bahasa di Indonesia yang dilaksanakan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), dan dilakukan sejak 1991 hingga 2017.

 

Masa Depan Bahasa Ibu di Indonesia

Penggunaan bahasa Internasional seperti Bahasa Inggris ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi dapat memudahkan komunikasi lintas batas Negara yang memiliki bahasa beragam. Namun, di sisi lain justru menjadi ancaman bagi bahasa asal mereka sendiri. Yang mengkhawatirkan adalah sebagian ketika sebagian anak berbahasa ibu bahasa asing.

Fenomena tersebut dapat dijumpai pada satu sekolah Satuan Pendidikan Kerja Sama (SPK) di Jakarta. Tujuh puluh persen siswa di sekolah dasar tersebut adalah WNI, sisanya berstatus WNA. Namun, tujuh puluh persen siswa WNI tersebut ternyata tidak mampu atau kesulitan berbahasa Indonesia. Di rumah mereka terbiasa berkomunikasi dengan bahasa asing. Bagi mereka, bahasa Indonesia justru menjadi bahasa kedua (B2).

Jika bahasa Indonesia saja posisinya telah bergeser menjadi bahasa kedua, lantas bagaimana nasib bahasa daerah asal mereka?

“Bahasa di Kabupaten Maluku Tengah semua berstatus terancam punah, tidak ada satu pun bahasa yang berstatus aman karena pengaruh Melayu Ambon ataupun bahasa Indonesia yang kuat. Belum lagi yang terbaru di Teluk Elpaputih, Kabupaten Maluku Tengah, Suru di Seram Bagian Timur telah hilang, ditambah bahasa di Pulau Buru,” Ujar Kepala Kantor Bahasa Provinsi Maluku Asrif di Ambon, Rabu, 14 Februari 2018, dilansir sebuah media daring.

Badan Bahasa Kemdikbud mencatat ada 67 bahasa daerah terancam punah. Selain di Maluku, ancaman kepunahan juga terdapat di Papua dan Nusa Tenggara Timur. Penyebab kepunahan itu macam-macam, antara lain bencana alam, kondisi geografis, kawin campur, dan sikap masyarakat yang tidak menghargai bahasa daerah. Yang dimaksud kawin campur adalah orang tua berasal dari dua etnis yang berbeda dengan bahasa daerah berbeda pula. Akhirnya, bahasa Indonesia tampil sebagai penengah menjadi bahasa ibu bagi anak-anak mereka.

Keanekaragaman bahasa semakin terancam karena makin banyak bahasa yang hilang. Namun begitu, usaha untuk meningkatkan pendidikan multibahasa berbasis bahasa ibu, terutama pada awal sekolah, harus terus dilakukan. Masyarakat multibahasa dan multikultural dapat mentransmisikan serta melestarikan pengetahuan dan budaya tradisional secara berkelanjutan kepada generasi muda. Keragaman linguistik dan multilingualisme sebagai kontribusi penting bagi pendidikan global karena mereka mempromosikan hubungan antarbudaya dan cara hidup yang lebih baik bersama.

 

Diolah dari berbagai sumber.