0

Enter your keyword

Litbeat 2019: Ketika Buku Berada dalam Pusaran Arus Transformasi

Litbeat 2019: Ketika Buku Berada dalam Pusaran Arus Transformasi

Litbeat 2019: Ketika Buku Berada dalam Pusaran Arus Transformasi

Kita tak asing lagi bagaimana film-film yang sukses menggaet jutaan penonton di layar lebar merupakan adaptasi cerita yang berasal dari buku. Sebutlah film-film di tahun 2019 ini seperti Dilan 1991 dan Bumi Manusia. Belum lama juga telah keluar film Gundala yang merupakan adaptasi dari komik superhero Indonesia.

Melihat bagaimana gerak perubahan yang terjadi dalam dunia literasi merupakan hal yang menarik yang dapat kita bahas. Hal ini menjadi pemicu dibawanya topik ini dalam acara literasi Litbeat 2019. Dengan mengusung tema What’s Next, Litbeat hendak meletakkan buku dalam arus transformasi, ekosistem industri kreatif yang lebih luas, serta keterkaitannya dengan berbagai elemen lain dalam pengelolaan dunia perbukuan.

 

Buku ke Film

Ada banyak hal yang mesti dipahami dalam proses alih wahana dari buku ke film. Avesina Soebli, kreator dan produser yang sudah menghasilkan 25 film, seperti Laskar Pelangi, Garuda di Dadaku, Film 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta dan lain sebagainya, menjelaskan dari kacamata produser bagaimana sebuah novel dapat diangkat ke film layar lebar:

  1. Buku Best Seller

Buku best seller sudah pasti jaminan mutu dari segi ceritanya. Oleh karena itu, produser sudah pasti akan berlomba untuk mendapatkan rights memfilmkan buku tersebut.

  1. Penulis terkenal

Selain dari buku best seller, buku yang berasal dari penulis yang sudah punya nama juga menjadi bahan pertimbangan untuk para produser.

  1. Potensial cerita yang dahsyat

Buku yang meskipun tidak best seller dan bukan dari penulis terkenal bisa dilirik oleh produser jika memiliki potensial cerita yang dahsyat.

  1. Inspirasi cerita yang keren

Selain itu, buku yang memiliki inspirasi cerita yang bagus, tanpa harus buku tersebut best seller atau dari penulis terkenal juga memiliki peluang untuk diangkat ke film.

Hetih Rusli, lead editor Gramedia Pustaka Utama yang sudah berkecimpung selama 20 tahun lebih menceritakan pengalamannya menjadi jembatan antara penulis yang memiliki cerita dan Production House yang ingin memfilimkan cerita. Seringkali ia menjumpai PH yang membeli rights buku untuk difilmkan terbiasa berpikir bahwa buku laris, sudah pasti mendatangkan penontonnya sendiri. Padahal pembaca buku tersebut belum tentu akan menonton. Oleh karena itu, promosi film tetaplah penting dan tidak boleh terbiasa mengandalkan kelarisan bukunya saja.

Ari Juliano Gema, Deputi Fasilitas Hak Kekayaan Intelektual dan Fasilitas Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Indonesia menjelaskan bahwa penulis bisa memiliki hak opsi, yaitu hak penulis untuk mengajukan opsi tenggat waktu rights dibeli sampai diproduksi. Hal ini karena banyak terjadi beberapa penulis yang rights tulisannya sudah dibeli PH namun sudah bertahun-tahun berlalu, film tidak juga diproduksi.

Pak Ari juga mengingatkan penulis agar membaca kontraknya dengan benar sehingga tidak terjadi kesalahpahaman. Selain itu, penulis juga harus menjaga dengan baik dokumen kontraknya jika kedepannya ada suatu masalah. Jika takut dokumen hilang atau rusak, Pak Ari menyarankan untuk disimpan melalui akta notaris. Penulis juga bisa memiliki andil dalam proses produksi film selama telah memiliki kesepakatan di awal dengan produser dan tertulis di dalam kontrak.

Buku ke Panggung

Buku dalam beberapa tahun belakangan mulai tampil di panggung teater. Sebutlah misalnya, drama musikal Laskar Pelangi, monolog Nyai Ontosoroh, atau pertunjukkan puisi Cinta tak Pernah Sederhana. Hubungan antara buku dengan panggung bisa dikondisikan sebagai sebuah fenomena baru, yang kemudian berpengaruh pada proses penciptaan, peluang bisnis, atau pertumbuhan penonton atau pembacanya.

 

Buku ke Musik

Lagu dengan lirik yang puitik bukanlah hal baru. Beberapa penyanyi telah dari dulu bahkan menggubah puisi dari penyair kenamaan Indonesia untuk dijadikan sebuah lagu. Sejumlah puisi mengandung, tidak hanya kekuatan makna, namun juga unsur musikalitas yang kuat. Puisi-puisi yang meminjam khazanah sastra tradisional, memiliki kecenderungan yang demikian.

 

Buku dan Medium Lainnya

Alur produksi buku sekarang ini tidak lagi berhenti pada saat buku selesai cetak dan siap didistribusikan ke pembaca. Telah banyak para penerbit yang mempersiapkan sebuah buku mencakup kemungkinan pengembangannya ke berbagai IP lain. Bahkan, para penerbit terlibat langsung dengan penulis dalam tahap perumusan ide, agar kelak bisa disajikan dalam beragam wahana. Di sisi lain, ada juga penulis yang berinisiatif untuk menulis dengan mempertimbangkan transformasinya menjadi banyak produk kreatif lain.