0

Enter your keyword

Dibalik Buku Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia

Dibalik Buku Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia

Dibalik Buku Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia

Minat saya terhadap berbagai hal yang terkait dengan pendidikan, saya ingat, sudah bersemi lama sekali. Khusus terkait dengan istri saya sebagai pemrakarsa keterlibatan kami di dunia pendidikan praktis. Dia bahkan sempat kuliah di IKIP Jakarta selulus SMA—meski akhirnya dia tinggalkan karena merasa jurusan akuntansi yang juga dia jalani secara rangkap pada awalnya lebih dibutuhkannya untuk menunjang ekonomi keluarga (Belakangan, ketika usianya sudah mencapai 33 tahun dan mempunyai 2 anak kecil-kecil, dia bahkan mengulang kuliah kembali, mulai dari Pendidikan Guru Taman Kanak-Kanak Islam hingga akhirnya menamatkan pendidikan keguruannya dalam usia 45 tahun ketika telah memiliki 4 anak). Puncaknya pada saat anak kami sudah tumbuh besar dan saatnya sekolah. Masalah muncul, akan kami sekolahkan ke mana mereka. Selama ini saya menilai sistem pendidikan kita pada umumnya kurang memadai. Saya beruntung karena tak jauh dari kompleks perumahan kami, ada sebuah sekolah Islam yang baik. Meskipun demikian, tak urung kami merasakan adanya kekurangan-kekurangan mendasar pada sistem pendidikan yang dikembangkan dan diterapkan di negeri kita. Sedemikian, sehingga bersama berjalannya waktu, saya dan istri merasa perlu untuk membangun sendiri lembaga pendidikan yang lebih sesuai dengan aspirasi kami, baik sebagai tempat anak-anak kami bersekolah maupun wujud partisipasi kami bagi upaya perbaikan sistem pendidikan nasional kita. Jauh sebelum itu, yakni ketika saya kuliah di ITB. Saat saya kuliah itu, persisnya antara tahun 1977 dan 1978, ada Gerakan Anti Kebodohan yang dilancarkan oleh Dewan Mahasiswa ITB pimpinan Kemal Taruc pada waktu itu. Dicetuskannya Gerakan Anti Kebodohan ini menjadikan saya menyadari betul betapa penting masalah pendidikan ini mendapat perhatian. Pendidikan memiliki nilai strategis untuk memecahkan semua masalah di negeri ini. Kalau dirunut ke belakang, masalah rendahnya moral, akhlak, perilaku, dan etos kerja masyarakat, tak lain dan tak bukan karena mutu pendidikan yang memang rendah.

 

Nah, setelah berjalan beberapa waktu, ternyata minat masyarakat sekitar kompleks perumahan tempat kami tinggal terhadap TK yang didirikan istri saya cukup besar. Dengan mulai dibukanya jenjang pendidikan SD, di suatu lahan yang jauh lebih besar dan fasilitas lebih lengkap, saya pun lebih melibatkan diri dalam segala kegiatan yayasan, mulai tingkat TK hingga perguruan tinggi (yang disebut paling belakangan ini didirikan oleh yayasan lain), di samping juga dalam kegiatan-kegiatan yang menyangkut upaya perbaikan sistem pendidikan di Tanah Air.

 

Kami pun mendapatkan banyak berkah dari kesempatan menyekolahkan anak-anak kami di AS. Saya pernah mendapatkan kesempatan dua kali tinggal di negeri ini dalam waktu tinggal yang relatif lama. Dalam kedua kesempatan itu, kami sempat menyekolahkan anak-anak kami, ada yang di pra-TK, TK, kemudian meningkat ke SD, SMP, SMA, bahkan juga perguruan tinggi pada akhirnya. Dalam berbagai kesempatan tinggal di negeri ini, kami pun selalu berupaya menyempatkan diri melakukan observasi sistem dan praktik pendidikan di AS, baik secara informal dengan mengikuti perkembangan persekolahan anak-anak kami di sana, maupun, dengan secara resmi melakukan observasi ke dalam kelas—yang memang dimungkinkan dengan perjanjian khusus dengan pihak sekolah. Hal ini juga banyak sekali memberikan pencerahan kepada kami mengenai bagaimana sistem dan praktik pendidikan di negara-negara maju dikelola.

 

Demikianlah, minat dan keyakinan saya terhadap sentralnya upaya pendidikan dalam meningkatkan kualitas hidup manusia secara keseluruhan berkembang hingga mencapai puncaknya dengan keterlibatan saya di berbagai lembaga pendidikan. Otomatis, selain terlibat secara praktis dalam, khususnya berbagai masalah strategis, sekolah yang kami dirikan, saya pun menjadi pengamat yang cukup intens atas perkembangan dunia pendidikan di negeri kita. Jika kita lihat kenyataan sehari-hari, maka mudah dikatakan bahwa setiap masalah—baik itu ketidakdisiplinan, korupsi, konflik dan kekerasan, ketidakbahagiaan—semuanya itu dapat dirunut sehingga kita temukan rendahnya kualitas pendidikan sebagai pangkalnya.

 

Buku ini adalah kumpulan tulisan pilihan yang saya buat baik sebagai bahan pelatihan untuk civitas academica sekolah kami, ataupun untuk materi-materi sosialisasi prinsip-prinsip pendidikan sekolah ke orangtua, maupun sebagai artikel yang saya kirim ke media massa dalam menanggapi berbagai perkembangan sistem pendidikan di negeri kita. Kriteria seleksi tulisan adalah kesesuaiannya untuk menyusun suatu buku yang cukup runtut dan solid sistematikanya.

Terima kasih kepada rekan-rekan di Lazuardi GIS yang selama ini telah menjadi sumber pemikiran pendidikan dan teman diskusi yang mematangkan gagasan-gagasan saya tentang pendidikan. Khususnya Lubna Assegaf, istri saya sekaligus pendiri dan pimpinan di Lazuardi GIS. Akhirnya, terima kasih kepada Saudari Dwi Irawati dan Saudari Lina Sellin yang selalu menjadi pemeriksa yang baik atas semua naskah buku saya. Walhamdu lillâhi rabbil ‘âlamîn.

 

Judul                                     : Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia

Subjudul                              : Meluruskan Kembali Falsafah Pendidikan Kita

Penulis                                 : Haidar Bagir

Kategori                               : Nonfiksi, Pendidikan

Ukuran                                 : 13 x 20,5 cm

Jumlah halaman               : 212 halaman

Penyunting                         : Azam Bahtiar