0

Enter your keyword

#ClimateStrike: Memahami Isu Perubahan Iklim Melalui Jostein Gaarder

#ClimateStrike: Memahami Isu Perubahan Iklim Melalui Jostein Gaarder

#ClimateStrike: Memahami Isu Perubahan Iklim Melalui Jostein Gaarder

Worldwide Trending Topic Twitter hari ini ramai dengan tagar #ClimateStrike atau yang dimaksud dengan krisis iklim. Setiap jumat diberbagai negara memang biasa menggelar aksi Fridays For the Future, yaitu aksis yang digelar masyarakat kepada pemerintah untuk menuntut tindakan nyata terkait isu perubahan iklim.

Aksi ini digagas pertama kali oleh Greta Thunberg, remaja 16 tahun dari Swedia yang menjadi aktivis perubahan iklim. Pada bulan Agustus 2018, Greta menggelar demonstrasi di depan gedung parlemen Swedia hingga menjadi sorotan media. Greta menjadi pelopor aksi demonstrasi yang akhirnya menginspirasi para remaja di berbagai negara untuk lebih memerhatikan tentang bencana perubahan iklim yang tengah terjadi.

Sumber gambar : Foto Profil Twitter Greta Thunberg

Sosok Greta mengingatkan kita pada salah satu tokoh Jostein Gaarder yaitu Anna Nyrud dalam bukunya, Dunia Anna. Anna juga remaja berusia 16 tahun yang memiliki kekhawatiran akan perubahan iklim yang diakibatkan oleh ulah manusia.

Mengapa kita harus memberikan perhatian lebih pada isu perubahan iklim? Beberapa kutipan dari buku Dunia Anna karya Jostein Gaarder ini mungkin bisa menjadi jawabannya.

Saya bilang kalau saya khawatir akan perubahan iklim yang diakibatkan oleh ulah manusia. Saya takut kalau kita yang hidup saat ini mempertaruhkan iklim dan lingkungan bumi ini tanpa memedulikan generasi selanjutnya.” (Hal. 21)

Kenyataannya memang seperti itu. Kita terlalu banyak mengeruk kekayaan sumber daya alam, melepaskan jutaan karbon ke atmosfer, menggeser habitat hidup flora dan fauna dan lainnya. Padahal semua hal itu adalah satu mata rantai yang jika kita potong sedikit, maka timbullah bencana dimana-mana.

Dalam pandangan kita sekarang, tentu saja gila kalau percaya bahwa Bumi adalah pusat dari alam semesta dan seluruh benda langit lainnya berputar mengelilingi planet kita. Namun, apakah tidak sama gilanya hidup dengan cara seakan-akan kita memiliki beberapa bumi untuk dihamburkan dan bukan yang satu-satunya ini yang harus kita bagi bersama?” (Hal. 159)

Bumi bukan pusat tata surya dan hal tersebut sudah terbukti keabsahannya. Kita bisa dianggap gila jika percaya sebaliknya. Dan bagi Gaarder, perumpamaan ini sama gilanya jika kita hidup dengan mengeruk segala yang ada di bumi seakan kita punya banyak bumi yang jika bumi satu sudah habis, kita bisa pindah ke bumi dua dan seterusnya.

Kami masih muda. Kami akan bersaksi bahwa krisis iklim bukanlah sebuah konflik antarbangsa. Hanya ada satu atmosfer, dan dari luar angkasa tidak dapat dibedakan batas-batas Negara. Yang saling berhadapan dalam konflik ini ialah generasi-generasi, dan kami sebagai generasi muda saat ini adalah korban dari semua bencana iklim.” (Hal. 198)

Memang benar, krisis iklim tidak melihat batas geografis. Jika bumi menghangat dua derajat saja, yang terkena dampaknya bukan hanya negara tropis yang semakin panas dan menyebabkan hutan-hutan terbakar. Kutub es bisa mencair, volume air semakin bertambah, negara kepulauan mulai tenggelam. Daerah gurun bisa semakin kekeringan, kota-kota tertimbun padang pasir hingga tak bisa lagi ditinggali. Dan bisa jadi, itulah masa depan bumi kita.