0

Enter your keyword

Rayakan Kartini: Berikut Rekomendasi Buku Tentang Perempuan

Rayakan Kartini: Berikut Rekomendasi Buku Tentang Perempuan

Rayakan Kartini: Berikut Rekomendasi Buku Tentang Perempuan

Selamat Hari Kartini, Sahabat Mizan!

Setiap tanggal 21 April kita memperingati sosok pahlawan perempuan yang menginspirasi kita, R.A. Kartini. Cita-cita besarnya yang ingin memajukan perempuan pribumi di tengah kolonialisme menjadikannya sosok perempuan istimewa yang memiliki kepedulian tinggi pada bangsanya. Pemikirannya tentang emansipasi wanita ditorehkan dalam surat-suratnya yang kemudian diberi judul “Habis Gelap, Terbitlah Terang”.

Meski saat ini kita sedang berada #dirumahaja karena tengah menghadapi pandemi covid-19, kita juga bisa loh merayakan Hari Kartini. Mungkin tidak dengan berpawai memakai baju kebaya, tapi bisa dengan membaca karya-karya yang bertema emansipasi wanita.

Berikut rekomendasi buku untuk merayakan Hari Kartini!

  1. Kartini: Sebuah Novel – Abidah El Khalieqy

“Aku tidak akan menikah. Aku bisa jadi diriku sendiri. Aku bisa berdaya tanpa laki-laki.” Dia hanya lulusan E.L.S.-bagaimana mungkin berani melantangkan sumpah menentang ikatan pernikahan? Menabrak akar tradisi, perempuan muda itu juga memiliki prespektif tentang dunia yang begitu jauh. Meradang terhadap ketidakadilan zamannya, pemberontakan Sang Putri Pingitan bak moncong senjata, yang bahkan mengentak kesadaran seorang Ratu Wilhelmina. Memahami Kartini, berarti menyelami perasaannya akan nasib Ngasirah yang terusir dari rumah utama. Menyelami pedihnya harus memanggil ibu kandungnya itu dengan sebutan Yu, layaknya kepada pembantu. Menghayati lukanya menyaksikan Kardinah, adik kandungnya, menderita akibat dijadikan istri kedua; melihat kepedihan perempuan yang seolah menjadi-jadi usai pernikahan. Sementara di sisi lain, dia harus pula menghadapi para politisi busuk yang menikungnya dengan berbagai tindakan brutal. Sungguh sebuah hidup yang penuh, bahkan ketika pada akhirnya Kartini menemukan satu-satunya yang dia kehendaki, “Ingin betul saya menggunakan gelar tertinggi, yakni hamba Allah.”

  1. Madre – Dee Lestari

“Apa rasanya jika sejarah kita berubah dalam sehari? Darah saya mendadak seperempat Tionghoa, Nenek saya seorang penjual roti, dan dia, bersama kakek yang tidak saya kenal, mewariskan anggota keluarga baru yang tidak pernah saya tahu: Madre.”

Terdiri dari 13 prosa dan karya fiksi, Madre merupakan kumpulan karya Dee selama lima tahun terakhir. Untaian kisah apik ini menyuguhkan berbagai tema: perjuangan sebuah toko roti kuno, dialog antara ibu dan janinnya, dilema antara cinta dan persahabatan, sampai tema seperti reinkarnasi dan kemerdekaan sejati.

Lewat sentilan dan sentuhan khas seorang Dee, Madre merupakan etalase bagi kematangannya sebagai salah satu penulis perempuan terbaik di Indonesia.

  1. Perempuan Suci – Qaisra Shahraz

Zarri Bano, seorang perempuan Muslim nan jelita, berkali-kali menolak lamaran laki-laki sampai akhirnya ia bertemu Sikander, yang memikat hatinya pada pandangan pertama. Namun, ketika Jafar, adik lelaki Zarri Bano, penerus martabat ayah mereka satu-satunya, tewas dalam kecelakaan, sang ayah memaksa Zarri Bano menjadi Perempuan Suci. Ini berarti ia tidak boleh menikah, karena satu-satunya yang boleh ia nikahi adalah Al-Quran.

Api asmaranya bersama Sikander pun dipaksa padam, justru pada saat mereka benar-benar ingin mereguk cinta. Yang lebih menyakitkan, dalam puncak kecewanya, Sikander malah mengawini Ruby, adik Zarri Bano. Demikianlah, selama bertahun-tahun, kesedihan, amarah, dan perang batin Zarri Bano tersembunyi rapi di balik burqa hitam yang membungkus tubuhnya, dan membatasinya dengan dunia luar.

Terjadi di negeri Pakistan yang eksotis, novel yang banyak mendapat pujian ini memaparkan secara melodramatis peliknya realitas seorang perempuan yang hidup di tengah kungkungan tradisi yang dibangun oleh laki-laki.

  1. Sister Fillah, You’ll Never Be Alone – Kalis Mardiasih

Kenapa ya, kebanyakan buku yang ngomongin perempuan, ditulis laki-laki? Saat ngomongin perempuan, yang dibahas lebih banyak alasan kenapa perempuan “lebih muda masuk neraka”, perempuan suka umbar aurat, suka ghibah dan semacamnya. Bahkan konon, yang paling sering mengkritik dan ngomongin perempuan itu ya sesama perempuan. Benarkah? Apa nggak ada yang bisa dilakukan perempuan demi sesama perempuan, bahkan mulai dari hal kecil sekalipun?

Buku ini buku tentang perempuan yang ditulis oleh perempuan. Perempuan mungkin lembut, tetapi perempuan juga adalah pejuang tangguh. Perempuan memang cantik, tapi cantiknya bukan hanya dari bersolek tetapi juga bersinar karena kecerdasannya. Perempuan tegas, tapi dia juga penuh empati.

Kalis mengajak kita untuk melihat perempuan dari berbagai aspek. Banyak perempuan yang sukses dengan keluarga dan pendidikan, di sisi lain masih banyak perempuan yang masih terlilit persoalan: para ibu tunggal yang harus berjuang membesarkan anaknya, korban kawin muda, buruh perempuan tanpa upah layak, perempuan korban kekerasan, dan banyak lagi. Dan sebagai sesama perempuan, kita harusnya saling menguatkan bukan saling menjatuhkan