0

Enter your keyword

PENTINGKAH (MENGEMBANGKAN) BAHASA INDONESIA BAGI PENUTURNYA?

PENTINGKAH (MENGEMBANGKAN) BAHASA INDONESIA BAGI PENUTURNYA?

Bahasa Indonesia kian tergerus oleh bahasa asing. Hingga muncul pertanyaan “pentingkah Bahasa Indonesia?” bagi kita, yang berbangsa dan tercatat sebagai warga negara Indonesia. Rasanya, patut untuk direnungkan kembali pertanyaan tersebut. Setidaknya, untuk mengetahui seberapa jauh “nasionalisme” kita terhadap bahasa Indonesia.

 

Sebagai perbandingan misalnya, mengapa orang Perancis begitu setia terhadap bahasanya. Jika Anda berkunjung ke negara tersebut, jangan harap akan mudah berinteraksi dengan menggunakan bahasa Inggris. Akan ada banyak hambatan jika Anda menggunakan bahasa selain bahasa Perancis. Begitupun ketika Anda datang ke Jepang. Pengalaman serupa akan Anda temui di sana.

Bahkan, di Jerman dan Belanda, meskipun kedua negara ini dikenal terbuka dengan bahasa asing, di beberapa kesempatan, penggunaan bahasa asing akan terasa sia-sia dan menyulitkan dalam proses interaksi. Bukankah hal itu menjadi gambaran dan semakin menegaskan besarnya “nasionalisme” mereka terhadap bahasa resminya. Ini pun membuktikan kesetiaan dapat menangkal masuknya interupsi bahasa asing ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat.

 

Lantas apakah kita kurang setia terhadap bahasa Indonesia? Garvin dan Mathiot mengungkapkan beberapa factor yang dapat memengaruhi kesetiaan orang terhadap bahasa tertentu. Yang paling pokok ialah faktor kebanggaan. Orang harus merasa bangga ketika menggunakan bahasa tertentu. Tanpa rasa bangga, agak muskil orang akan setia terhadap bahasanya. Faktor lainnya merupakan aspek kebutuhan dan aspek kedekatan. Maksudnya, orang mau menggunakan bahasa tertentu ketika ia merasa perlu menggunakannya. Pun orang akan menggunakan bahasa tertentu ketika dia merasa dekat dengan bahasa tersebut.

 

Barangkali, kita kurang bangga terhadap bahasa Indonesia. Faktanya, kita lebih asyik dan bangga memilih bentuk asing ketimbang berbahasa Indonesia. Coba saja kita perhatikan praktik berbahasa generasi muda Indonesia di media sosial. Sebagian besar dari mereka, akan sulit merumuskan konsep pikiran dan menuliskannya dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik (sesuai konteks) dan benar (sesuai tata bahasa).

 

Hal ini merupakan konsekuensi logis atas situasi Indonesia yang kian melemah. Melemahnya rupiah di hadapan dolar, lambannya beragam penyelesaian masalah (misalnya, kebakaran hutan sampai penanganan pandemi) setidaknya telah menyumbang perasaan kurang bangga terhadap bangsa sekaligus bahasa sendiri.

 

Selain pembenahan di beberapa sektor, terutama kebijakan pemerintah pada sektor ekonomi, politik, dan kesehatan, sektor kebudayaan dan pendidikan juga memiliki peranan kunci. Pengurangan muatan sastra dalam pembelajaran bahasa Indonesia berdampak langsung pada kemunduran sikap dan apresiasi bahasa Indonesia. Padahal, hari ini, tidak sulit menemukan buku-buku yang menerbitkan karya-karya para sastrawan Indonesia.

 

Namun, lebih daripada itu, menyubordinasikan muatan sastra dalam pembelajaran bahasa Indonesia merupakan kekeliruan. Padahal, melalui pembelajaran sastralah justru pengembangan keterampilan berbahasa dimungkinkan. Seperti yang diungkapkan oleh Ivan Lanin, bahwa karya sastra dapat memperkaya perbendaharaan diksi bahasa Indonesia.

 

Inilah tantangan bagi para pendidik bahasa Indonesia untuk ikut serta dalam mengembangkan keterampilan berbahasa Indonesia. Dalam artian, tak sekadar mengajak dan menugaskan peserta didik untuk membaca dan menulis tanpa evaluasi pembelajaran yang memadai. Pembelajaran bahasa Indonesia juga harus disertai tujuan untuk memperkaya dan memperluas wawasan literatur bahasa Indonesia. Apalagi di tengah kondisi pembelajaran jarak jauh (PJJ) seperti saat ini.

 

Maka, ikhtiar menumbuhkan sikap berbahasa harus dimaknai sebagai proses yang panjang, konsisten, dan berkesinambungan. Sehingga tidak ada lagi kesan ‘setengah-setengah’ dalam menumbuhkan sikap berbahasa, seperti menyubordinasikan muatan sastra dalam pembelajaran bahasa Indonesia.[]

 

Penulis: Ilham Miftahuddin, editor Mizan Publishing

Artikel ini pertama kali diterbitkan di buruan.co.