Menerjemahkan Rasa, Menemukan Rupa: Perjalanan Cerita Menjadi Visual menjadi salah satu rangkaian acara yang digelar di Pekan Sastra Jakarta yang diselenggarakan di Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra HB Jassin, Jakarta Pusat. Acara yang digelar pada Rabu, 12 Agustus 2026, ini menghadirkan Sucianty N. Firdaus, desainer Mizan Pustaka. Dalam sesi ini, Suci mengajak peserta melihat lebih dekat proses di balik sebuah ilustrasi dan desain sampul buku, dari konsep awal hingga menjadi visual yang mampu mewakili cerita.
Suci mengawali sesi diskusi dengan memaparkan bahwa sebuah karya seni memang bersifat subjektif. Namun, menariknya, ada karya-karya tertentu yang dapat membuat banyak orang memiliki persepsi serupa tentang keindahan atau kualitasnya, “Kesamaan persepsi tersebut tidak muncul begitu saja. Pengalaman yang dimiliki seseorang turut membentuk kesadaran dan cara mereka memandang sebuah karya,” jelas Suci.
Selain itu, Suci juga turut menjelaskan proses bagaimana ia menciptakan sebuah visual untuk buku. Ia berkata bahwa penilaian persepsi pada suatu karya juga berlaku dalam proses menerjemahkan cerita menjadi visual. Sebuah sampul buku tidak dibuat secara tiba-tiba, melainkan berangkat dari misi yang ingin disampaikan, “Kita harus tau apa yang ingin ditonjolkan, suasana seperti apa yang ingin dibangun, dan bagaimana cerita tersebut dapat dikenalkan melalui visual,” paparnya.

Salah satu tahap awal yang dilakukan adalah membuat moodboard. Namun, menurut Suci, moodboard bukanlah acuan yang harus diikuti, melainkan moodboard bisa menjadi kumpulan ide yang dapat dikembangkan. Ia biasanya membagi moodboard menjadi dua jenis, yakni vibes moodboard untuk menentukan dunia dan atmosfer yang ingin dibangun, serta tactical moodboard untuk menerjemahkan atmosfer tersebut ke dalam bentuk visual. Kata kunci yang digunakan pun dapat digali dari isi cerita, mulai dari metafora hingga karakter suasana yang ingin ditampilkan.
Setelah konsep visual mulai terbentuk, pemilihan ilustrator atau kreator menjadi tahap penting berikutnya. Suci menekankan bahwa kebutuhan karya perlu ditentukan terlebih dahulu sebelum mencari kreator yang tepat. Dengan begitu, kemampuan dan karakter visual kreator dapat benar-benar sesuai dengan misi yang ingin dibawa.
Menurutnya, proses yang matang sejak awal akan membuat tahap pengerjaan berikutnya menjadi lebih terarah. Ketika tim penerbit dan kreator sudah memiliki pemahaman yang sama mengenai konsep, proses revisi pun dapat berjalan lebih efektif.
Melalui sesi ini, peserta diajak melihat bahwa di balik sebuah sampul yang tampak sederhana, terdapat proses panjang untuk menemukan bentuk visual yang tepat. Desain bukan hanya tentang membuat buku terlihat menarik, tetapi juga tentang menerjemahkan cerita menjadi makna, emosi, dan identitas yang dapat dirasakan pembaca bahkan sebelum membuka halaman pertama