Penulis: Haidar Bagir
BAGIAN 2
Tulisan ini merupakan ungkapan kenangan dan penghormatan dari Bapak Haidar Bagir–Pendiri dan Presiden Direktur Mizan Group–atas sosok Bapak Abdillah Toha, Komisaris Utama dan Pendiri Mizan Group. Pandangan yang disampaikan lahir dari kesaksian dan pengalaman beliau secara langsung bersama almarhum. Tulisan ini terbagi dalam beberapa bagian dan akan diunggah secara berkala.
Lelaki keturunan Arab bermarga Assegaf ini, adalah salah seorang anak dari seorang ulaiti (Arab Totok) yang bermigrasi ke Indonesia. Tidak sampai menjadi liberal, Toha Assegaf sang ayah, pernah—bersama beberapa Arab totok lain, termasuk kakek saya dari pihak ayah—disebut sebagai bagian dari sekelompok literati (udaba') berwawasan progresif dari kalangan keturunan Arab Alawiyin di Solo, oleh Sholeh bin Alwi Al Hamid dalam buku yang ditulisnya berjudul Rihlah Jawa al-Jamilah. Sementara penulis yang sama, menyebut banyak kelompok keturunan Arab lainnya dari lingkungan ini sebagai kaum darwisy—kelompok darwis, dalam makna kaum beragama tradisional, yang cenderung kepada tasawuf praktis. Ibunya, Hindun Alaydrus, ber-ibu-kan perempuan asli Nusantara, seorang janda dari seorang Kapten Arab di Semarang. Karena itu, tak aneh jika keluarga Abdillah amat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Terutama anak-anak paling muda, yang sudah lebih menikmati kesejahteraan cukup setelah ayahnya mengalami masa-masa sulit bertahan di awal-awal migrasi mereka. Belakangan, ayah Abdillah dan kakek saya dari pihak ibu itu tercatat sebagai pendiri sekolah-sekolah di lingkungan al-Rabithah al-'Alawiyah—yang, belakangan, berubah nama menjadi Yayasan Pendidikan Islam Diponegoro.
Kembali kepada almarhum Abdillah Toha. Setelah beliau kembali ke Indonesia, tentu sesekali saya bertemu beliau juga. Hingga, mungkin di awal 70-an, saya diajak ibu dan tante saya ke Jakarta. Bersama seorang sepupu juga, kalau saya tidak salah ingat. Pada saat itulah, di awal tahun 1970—yakni lebih dari setengah abad lalu—untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki ke Jakarta. Tentu saja kami tinggal di rumah Paman Abdillah. Membayar losmen di Jakarta pada masa itu adalah suatu soal besar. Lagi pula, dengan adanya seorang kerabat dekat, bukan hanya tinggal di losmen itu menghabiskan biaya, tak akan terpikir oleh keluarga mana pun untuk tak tinggal di rumah kerabat. Budayanya sudah begitu, pada masa itu. Maka, tak aneh jika rumah Pak Abdillah selalu menjadi "jujukan" (tempat-menuju) bagi siapa saja dari keluarga besarnya dari Solo yang ke Jakarta
Pak Abdillah adalah orang pertama dari keluarga ibu saya, juga ayah saya, yang tinggal di Jakarta. Dan almarhum adalah orang yang sangat dermawan kepada keluarga. Kami diajaknya berjalan ke sana kemari, termasuk makan di restoran modern, Hingga main bowling di Hailai Ancol. Di luar itu, saya menyempatkan diri berjalan-jalan ke air mancur Bundaran HI, yang jaraknya tak begitu jauh dari rumah almarhum di Kebun Kacang.
Kami semua sangat senang. Di rumah Pak Abdillah pula, dalam waktu senggang tak pergi kemana-mana, saya banyak mendengarkan lagu-lagu The Beatles, yang sebagian besarnya belum pernah saya dengar pada waktu itu.Lalu, ketika di Australia, beliau ikut membentuk sebuah band, bersama beberapa teman Indonesia, antara lain Pak Boediono, yang kalau tidak salah juga menyanyikan lagu-lagu rock klasik ala The Beatles, Bee Gees, dan sejenisnya. Saya lupa, apakah pada kesempatan ini, atau pada kunjungan saya setelahnya, saya menyempatkan diri membaca buku The Godfather, karya Mario Puzo, yang ada di rak buku beliau. Betapa kagumnya saya kepada beliau. Sehingga, seingat saya, cita-cita saya pada waktu itu adalah menjadi seperti Paman Abdillah. Hidup senang dan terhormat di Jakarta, sebuah kota besar yang menjanjikan apa saja, dengan uang cukup.
Mungkin sekali-dua setelah itu saya sempat berkunjung ke rumah beliau di suatu jalan di wilayah Kebon Kacang, Jakarta Pusat. Termasuk ketika pada suatu pagi, masih ketika saya mahasiswa, saya menyerbu rumah beliau tanpa peringatan, dengan mungkin hampir sepuluh teman saya. Pada waktu itu, kami ke Jakarta demi melakukan riset tentang industri kecil di Jakarta—dalam rangka membantu dosen yang sedang mengerjakan proyek penelitian tentang masalah ini. Saya ingat betul, dalam kepanikan tak mempersiapkan apa-apa untuk para tamu tak diundang yang kelaparan ini, Pak Abdillah (dan istri) tidak panik dan tetap melayani kami dengan baik.
Belakangan, kakak saya, pernah pula tinggal di rumah Pak Abdillah—kalau tak salah, juga paman saya dari pihak ayah–saat keduanya baru memulai karier di Jakarta, setelah lulus dari Institut Teknologi Bandung (ITB).
Saat itu Pak Abdillah bekerja di Hotel Sabang, sebuah hotel modern mungkin yang pertama di Jakarta, sebelum kemudian pindah ke Bank of America, lalu didapuk untuk bekerja di Humpuss International. Melampaui itu semua, Pak Abdillah memulai berbisnis sendiri. Berawal dengan membuka cabang konsultan dengan nama Touche Ross Indonesia, menjadi pimpinan di Jan Darmadi Corporation, memulai perusahaan properti bersama pebisnis dan budayawan Setiawan Djody, serta merintis beberapa bisnis lain bersama teman-temannya.
Di tengah-tengah itu semua, saya pun masuk ITB pada tahun 1976. Hingga tibalah tahun-tahun terakhir kuliah saya di perguruan tinggi ini.
Perlu saya singgung sedikit di sini, bahkan ketika masih di bangku kuliah, saya sudah mulai belajar berbisnis, dengan membuka pusat bimbingan belajar, kursus akuntansi, dan kursus bahasa Inggris di Bandung. Bisnis itu tak berlanjut akibat saya sudah harus menyelesaikan studi saya di ITB, sementara waktu terus berjalan. Lalu, entah bagaimana ceritanya, saya mendapat pesan dari Pak Abdillah Toha, dan Pak Mustafa Anis Hadi—teman kecil, yang saat itu tinggal bertetangga di suatu area yang jalan masuknya mereka namai Jalan Solo—untuk mengajukan proposal bisnis, jika memang hal itu sudah terpikirkan oleh saya, setelah saya lulus dari ITB nanti.
Saya memang tak pernah membayangkan akan bekerja di kantor milik orang lain. Tak menarik bagi saya, sampai-sampai tak terbayang bagi saya apa yang harus saya kerjakan jika saya berada dalam situasi seperti itu. Hingga di suatu malam, di teras rumah Pak Abdillah, saya mengajukan sebuah proposal bisnis di bidang penerbitan buku.
Sebelum melanjutkan, bahkan 43 tahun setelah itu—yakni semasa beroperasinya perusahaan penerbitan yang proposalnya saya bawa pada malam hari itu, sampai sekarang–saya selalu merasa risih menyebut Mizan sebagai bisnis. Ini saya sampaikan bukan sebagai cara saya menunjukkan bahwa saya seorang idealis, melainkan masih dalam rangka mengisahkan pribadi Pak Abdillah Toha yang saya kenal. Kita akan sampai ke sana pada saatnya.
Mengembangkan sebuah perusahaan penerbitan buku memang adalah satu-satunya pilihan saya pada waktu itu. Bukan karena saya kekurangan ide bisnis—sebaliknya, saya tak pernah kehabisan ide bisnis, sampai pada tingkat agak sembrono dalam hal ini. Tapi, lebih karena mengembangkan sebuah perusahaan penerbitan bisa memenuhi semua keinginan dan idealisme saya sebagai anak muda aktivis Islam pada saat itu. Apalagi, sejak beberapa tahun sebelum itu, yakni masih di awal-awal kuliah saya di ITB, saya sudah terlibat di Penerbit Pustaka Salman, yang merupakan salah satu unit aktivitas Masjid Salman ITB. Ya, di samping kuliah di ITB, cita-cita saya sebagai anak muda Muslim digembleng di sini. Bersama mentor-menor istimewa, termasuk Bang Imad(uddin) Abdurrahim, Pak Ahmad Sadali, Pak Miftah Arif, KH Endang Saifuddin Anshari, KH Rusyad Nurdin, belum lagi Bang Armahedi Mahzar dan Bang Aldy Anwar, dan yang lain.
Di Pustaka Salman saya belajar apa saja tentang penerbitan buku. Mulai menyunting, melayout, dan sebagainya, bahkan melihat bagaimana huruf-huruf dalam buku di-setting hingga cara mesin cetak bekerja. Bagi yang tahu tentang sejarah penerbitan buku Islam di Indonesia, maka seseorang tak akan gagal mengenali bahwa Pustaka Salman adalah perintis penerbitan Islam modern paska-Alma'arif, Bulan Bintang, dan sebagainya.
Mizan, betapa pun, adalah juga sebuah bisnis. Namun, bagi saya, di luar fungsinya sebagai ladang mencari nafkah, industri penerbitan memenuhi passion saya sebagai aktivis dakwah muda–yang menghargai intelektualisme Islam–untuk mendakwahkan Islam, sekaligus menyalurkan minat baca-tulis saya.
Nah, dalam konteks ini, Pak Abdillah yang adalah seorang pebisnis andal, merupakan sekaligus seseorang yang suka baca—belakangan juga suka menulis—dan punya semangat dakwah yang tak kurang-kurang besarnya. Di atas semua itu, Pak Abdillah memiliki apresiasi khusus terhadap rasionalisme Islam. Klop sudah. Apalagi, Pak Musthofa Anis Hadi, yang bersama kami berdua membidani Mizan, juga berbagi banyak pandangan dan semangat yang sama.
Hasilnya, selama 43 tahun mengelola Mizan, tak ada lain yang saya peroleh dari Pak Abdillah, kecuali kepercayaan, bimbingan dan dukungan dalam dalam semua hal itu. Tak ada satu pun saat di mana kami memiliki konflik dalam berbagai kebijakan perusahaan. Khususnya dalam kesamaan misi dakwah dan visi tentang masyarakat Muslim Indonesia masa depan. Saya berpikir, tanpa itu semua, belum tentu Mizan bisa terus bertahan—malah, Alhamdulillah, tak berhenti tumbuh—hingga sekarang ini.
Sekadar sebagai contoh, meski selalu mendorong kami semua untuk mencapai pertumbuhan bisnis yang lebih baik, Pak Abdillah sama sekali tak akan mendorong kami mengorbankan visi dan misi Mizan, termasuk kualitas, dalam buku-buku yang kami terbitkan–meski mungkin menjanjikan keuntungan yang besar.
Sebuah anekdot bisa menggambarkan hal ini. Suatu kali, tanpa kami semua (pimpinan) ketahui, salah satu imprint Mizan menerbitkan sebuah buku yang berisikan dialog dengan jin (Muslim). Sudah jelas bahwa inspirasinya datang dari kesuksesan spektakuler buku "Dialog dengan Jin Muslim". Memang CEO imprint Mizan yang satu ini kami kenal sebagai seseorang yang semangat komersialnya perlu dikendalikan. Ketika Pak Abdillah mendengar hal itu, Pak Abdillah memanggil sang CEO. "Wah, penerbitan kamu bakal untung besar dengan buku ini," kata Pak Abdillah. Sang CEO senyum-senyum senang mendengarnya. Tapi, di luar dugaannya, segera Pak Abdillah menukas dengan gaya candaan sarkastik khas beliau: "Tapi (kamu akan membuat) Muslim di Indonesia akan jadi bodoh semua!"
Dalam hal garis pemikiran Islam, saya bahkan bisa mengatakan bahwa Pak Abdillah lebih rasionalistik daripada saya. Tidak kurang mengapresiasi tasawuf dan tradisionalisme Islam—beliau adalah penganut dan praktisi Thariqah 'Alawiyah, yang tampak antara lain dalam wirid-wirid yang senantiasa beliau baca dalam berbagai kesempatan sehari-hari–tak jarang beliau mengkritisi sifat "terlalu" mistis dalam pemikiran aliran Islam.
Contohnya, dalam hal peran doa, Pak Abdillah kadang sampai sejauh mengesankan tidak percaya pada efektivitas langsung doa terhadap kejadian-kejadian di alam ini. Bagi Pak Abdillah, semua sudah diatur oleh sunnatulLah (hukum alam ciptaan Ilahi) tanpa bisa diintervensi oleh daya-daya gaib (supranatural). Bagi Pak Abdillah, doa lebih berfungsi sugesti bagi pendoanya, di samping sifatnya sebagai bentuk penghambaan dan kepasrahan (ibadah) kepada Allah SWT. Cara berpikir keislaman rasionalistik Pak Abdillah ini akan tampak jelas bagi siapa yang sering mengikuti pemikiran keislaman beliau yang, belakangan, dibukukan dalam buku beliau berjudul "Buat Apa Beragama".
Tetapi, hampir-hampir paradoksal bagi sebagian orang, Pak Abdillah adalah pendukung gerakan-gerakan "Islamistik" anti dominasi Barat dan kekuatan-kekuatan dukungannya, seperti gerakan perlawanan Palestina terhadap Zionisme, dan konfrontasi Poros Perlawanan pimpinan Iran terhadap ulah hegemoni AS dan para sekutunya. Dalam hal ini, Pak Abdillah adalah seorang Muslim "militan".
Oh, iya, Pak Abdillah sampai masa akhir hidupnya adalah seorang Sunni dalam praktik. Tak ada sedikit pun keraguan pada diri siapa saja yang mengenalnya. Tapi, begitu sampai kepada pemikiran Islam, batas-batas mazhab dan aliran langsung saja meleleh di hadapan pribadi ini. Ritus dan akidah adalah satu soal, dan dalam hal ini Pak Abdillah bukan jenis orang yang merasa perlu menghabiskan energi untuk mengotak-atiknya. Tapi, bagi beliau, pemikiran adalah soal lain. Dan, dalam hal ini, bagi Pak Abdillah, hanya langit batas tafsirnya. Meski bukan tidak ada juga yang merasa bahwa beliau bukanlah otoritas di bidang pemikiran Islam, tak kurang dari Prof. Quraish Shihab sering dibuat terkesan oleh kreativitas pemikiran-pemikiran beliau. Hingga, suatu saat, Prof. Quraish pernah menyatakan keinginannya untuk suatu kali bisa menulis buku bersama Pak Abdillah.