Artikel Image

Monday, 08 June 2026

Oleh: admin Admin

Monday, 08 June 2026

Oleh: admin Admin

Kisah Hidup Tokoh Bangsa yang Nyaris Senyap (Bagian 3)

Penulis: Haidar Bagir

 

BAGIAN 3

Tulisan ini merupakan ungkapan kenangan dan penghormatan dari Bapak Haidar Bagir–Pendiri dan Presiden Direktur Mizan Group–atas sosok Bapak Abdillah Toha, Komisaris Utama dan Pendiri Mizan Group. Pandangan yang disampaikan lahir dari kesaksian dan pengalaman beliau secara langsung bersama almarhum. Tulisan ini terbagi dalam beberapa bagian dan akan diunggah secara berkala.

Pengantar oleh Bapak Haidar Bagir:

Bagian ini berisi catatan personal saya tentang salah satu sisi kepribadian Pak Abdillah Toha. Bagian ini tidak banyak memuat kisah-kisah besar—yang akan saya lanjutkan pada bagian akhir—namun diharapkan dapat melengkapi pandangan kita tentang sosok beliau.

 

Siapa saja yang mengenal dekat Abdillah Toha, tak akan gagal melihat bahwa almarhum adalah seorang perfeksionis. Dengan kata lain, tak mudah membuat Pak Abdillah puas dalam hal pekerjaan-pekerjaan yang melibatkannya. Maka, kita akan melihat Pak Abdillah sebagai orang yang hands on dalam memastikan bahwa pekerjaan-pekerjaan itu terselesaikan dengan sempurna. Baiklah saya mulai dengan sebuah kisah yang sangat intim dengan kehidupan saya.

 

Saat itu umur saya masih sekitar 20 tahun. Dalam sebuah pertemuan yang sama sekali tidak direncanakan saya jatuh hati kepada seorang gadis. Hanya kira-kira 6 bulan kemudian, ayah saya yang mendengar hal ini, meminta kepastian apakah saya sudah yakin untuk meminangnya jadi isteri saya. Saya jawab dengan afirmatif. Beberapa menit saja setelah itu ayah saya menelpon paman saya ini. Ayah saya meminta Pak Abdillah mewakilinya untuk meminangnya si gadis. Beberapa hari setelah itu Pak Abdillah menemui ayah si gadis, bersama salah seorang paman saya dari garis ayah. Dengan izin Allah, semua berjalan lancar. Disepakati, dua minggu setelah itu, pernikahan sederhana akan dilangsungkan di rumah ayah si gadis.

 

Saya saat itu hanya mahasiswa yang tak punya apa-apa. Malam sebelum pernikahan, Pak Abdillah mengajak saya ke Ramayana Department Store di Jalan Sabang untuk membeli pakaian yang saya perlukan untuk upacara pernikahan esok harinya. Jas dan dasi? Sudah disiapkan Pak Abdillah dari koleksi jas-jas dan dasi-dasi apik yang beliau punyai. Pak Abdillah adalah seseorang dengan selera yang tinggi. Maka esok paginya, saya siap menuju ke lokasi pernikahan, dengan jas pinjaman, baju dan (seingat saya juga) kaos dalam yang dibelikan Pak Abdillah. Pak Abdillah sendiri yang memasangkan dasi dan memastikan semuanya sudah rapi. Hingga akhirnya Pak Abdillah mematut-matut saya, sebelum naik mobil. Tapi, belum puas, beliau tiba-tiba saja merogoh kantongnya, mengambil setangan, melipat-lipatnya dengan terampil, dan menyisipkannya di kantong atas jas yang saya pakai, sebagai hiasan.

 

Tapi bukan cuma soal pakaian Pak Abdillah amat teliti, juga soal desain bangunan rumah dan kantornya lengkap dengan segenap interior  dan furnitur. Tak ada yang lepas dari perhatian dan pilihannya. Tak jarang Pak Abdillah pergi sendiri ke toko dan memilih serta membeli barang-barang yang dibutuhkan untuk keperluan itu. Demikian pula memeriksa hasil pekerjaan kontraktor dalam membangun rumah dan kantornya. Saya ingat, sekali saya pernah membelikan meja untuk pot hias di kantor, tapi Pak Abdillah meminta izin untuk menggantinya—dengan memesan meja yang dibuat khusus agar lebih pas ukurannya.

 

Foto Bapak Haidar Bagir bersama Bapak Abdillah Toha

 

Dengan dibumbui candaan, Pak Abdillah tidak segan mengkritik buku atau film Mizan yang menurutnya kurang bagus kualitasnya. Demikian juga, jika mengadakan acara yang beliau ikut merancangnya—apalagi acara beliau sendiri–Pak Abdillah akan memastikan susunan acara, yang tak boleh diotak-atik sama sekali jika sudah disepakati. Apik, detail, dan tanpa kompromi.

 

Beberapa kali juga kami ke luar negeri bersama, saya dan istri, bersama Pak Abdillah dan istri. Pernah ke Eropa, juga ke Emirat dan Saudi—sambil menjalankan umrah. Beberapa kali Pak Abdillah merasa "tobat" dengan gaya "tawakkal" saya. Tawakkal yang saya maksudkan di sini adalah perencanaan seadanya yang saya buat. Ini contohnya. Waktu akan umrah ke Saudi, berdasar info seorang teman, saya atur rombongan berangkat tanpa visa Saudi. Bisa diminta di Dubai, demikian infonya. Pak Abdillah mulai was-was  Berdasar informasi yang sama, dikatakan bahwa visa bisa diminta lewat travel biro kecil-kecil yang ada di kota itu. Pak Abdillah makin was-was. Beliau memaksa kami minta visa melalui Kedutaan Saudi di Dubai—tanpa bisa saya yakinkan bahwa info yang saya terima tidak begitu. Di Kedutaan kami diterima Konsul, dan permintaan visa kami ditolak mentah-mentah. Maka, pergilah kami ke travel biro yang berjajar di sebuah kompleks ruko di kota itu. Kantornya tidak meyakinkan. Tapi, apa boleh buat kami bayar biaya, dan semua paspor kami serahkan. Tampak sekali was-was Pak Abdillah makin menjadi. Esoknya, sekitar pukul 2 siang kami kembali untuk mengambil visa yang diharapkan sudah siap, sesuai janji. Sampai di sana, paspor belum datang, padahal pesawat yang kami tumpangi akan berangkat pukul 16.30. "Hilang semua paspor kita, Dar," kata Pak Abdillah. Untungnya, setengah jam kemudian paspor tiba, dan sudah tercantum visa di sana. 

 

Tapi, masih ada masalah. Berkas kami kurang satu dokumen lagi. Pak Abdillah sudah mulai agak kesal. Maka, saya pun lari naik taxi ke Kedubes Indonesia, untuk mengurusnya. Ketika saya kembali ke lokasi ruko, jam sudah menunjukkan hampir pukul 16.00. Maka kami pun bergegas naik taxi ke bandara, dengan dugaan keras bahwa kami akan terlambat. Tapi, rupanya Dewi Fortuna masih bersama kami. Pesawatnya justru terlambat. Dan kami masih sempat naik pesawat sesuai rencana. Sempat, dalam segala kekacauan itu, Pak Abdillah berkata—bukan dengan kemarahan sungguhan—"Kapok saya ke luar negeri sama kamu." Saya pun tertawa, sambil sedikit kikuk.

 

Pak Abdillah juga sangat perfeksionis dalam menulis dan berpidato. Tulisannya rapi sedemikian, sehingga saya tak ingat pernah menemukan salah cetak—meski di tulis di ponsel, pernah dengan Blueberry sebelum smartphone. Bahasanya lancar, tata bahasanya pun rapi. Jika berpidato, Pak Abdillah menyampaikannya dengan fasih, lancar, dan artikulasi yang jelas lagi mantap. 

 

Saya mendengar langsung dari Pak Zulkifli Hasan yang melayat ke rumah duka, ketegasan juga selalu menonjol dalam komentar-komentar Pak Abdillah di DPR. Terus terang, tepat sasaran, dan tak dibungkus basa-basi yang mengaburkan. Mengkritik dengan sopan dengan terus terang tanpa rasa sungkan berlebihan.


Bahasa Inggris Pak Abdillah juga istimewa. Amat fasih, dengan pelafalan tak kalah dari penutur asli, dan lancar. Pak Abdillah selalu took his time dalam berbicara. Tak gugup apalagi tergopoh-gopoh. Ditambah kecerdasan dan pengetahuan yang luas tentang banyak hal, tak mengejutkan jika kemudian Pak Abdillah dipilih sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI dan Vice President Executive Committee dari Inter-Parliamentary Union (IPU) yang berkantor pusat di Jenewa, Swiss.

Share

share icon share icon share icon
Artikel Terpopuler
Penulis

15 May 2026

Selamat Hari Buku Nasional, In ...
Penulis

22 May 2026

Fakta di Balik Hari Kebangkita ...
Penulis

08 June 2026

Kisah Hidup Tokoh Bangsa yang ...
Penulis

08 June 2026

Kisah Hidup Tokoh Bangsa yang ...
Lihat Semua