Artikel Image

Monday, 08 June 2026

Oleh: admin Admin

Monday, 08 June 2026

Oleh: admin Admin

Kisah Hidup Tokoh Bangsa yang Nyaris Senyap (Bagian 4)

Penulis: Haidar Bagir

BAGIAN 4

Tulisan ini merupakan ungkapan kenangan dan penghormatan dari Bapak Haidar Bagir–Pendiri dan Presiden Direktur Mizan Group–atas sosok Bapak Abdillah Toha, Komisaris Utama dan Pendiri Mizan Group. Pandangan yang disampaikan lahir dari kesaksian dan pengalaman beliau secara langsung bersama almarhum. Tulisan ini terbagi dalam beberapa bagian dan akan diunggah secara berkala.

 

Pak Abdillah Toha bukan orang baru dalam politik, kalau politik mau kita pahami dalam arti asli dan luasnya. Yakni, politik, bukan sebagai sekadar persoalan berburu kuasa, melainkan sebagai cara mengatur kehidupan kolektif agar masyarakat dapat hidup dengan sebaik-baiknya.

 

Pak Abdillah adalah sahabat dekat para tokoh LSM Indonesia pada zamannya. Termasuk Alm. Dawam Rahardjo dan Adi Sasono—untuk menyebut dua saja di antaranya. Alm. Dawam Rahardjo bahkan adalah teman main masa kecil Pak Abdillah di Solo. Mereka bertiga, bersama Dr. Amin Aziz  belakangan mendirikan Pusat Penelitian Agribisnis (PPA), sebuah upaya social enterprise untuk berpartisipasi dalam upaya pengembangan  agribisnis di Indonesia. Beliau juga, bersama almh. Ibu Nani Sadikin, mendirikan Rumah Sakit Mata Aini, sebagai salah satu rintisan pusat kesehatan mata modern di negeri ini—yang juga memiliki tujuan membantu masyarakat kebanyakan yang membutuhkannya. Pak Abdillah juga adalah salah satu anggota Dewan Pembina Yayasan Paramadina, bersama sederet intelektual Muslim Indonesia di bawah arahan alm. Nurcholish Madjid. 

 

Belakangan, seperti sudah disinggung sebelumnya Pak Abdillah menjadi anggota DPR RI dan berbagai perangkatnya, sebelum akhirnya didapuk sebagai salah seorang staf ahli Wakil Presiden di masa jabatan sahabatnya, Pak Boediono. Seingat saya, Pak Abdillah bersedia memenuhi permintaan Pak Boediono untuk menjadi staf ahli dengan syarat beliau diizinkan untuk tidak menerima gaji/honor dari jabatannya tersebut. 

 

Tapi, peran  terbesar Pak Abdillah bagi bangsa ini adalah ketika beliau dan sahabatnya, Pak Mustafa Anis, memutuskan untuk mendirikan sebuah majalah Islam bernama Majalah Ummat. Berbeda dengan Panjimas, yang pernah jaya di masa-masa sebelumnya, Majalah Ummat dirancang sebagai sebuah majalah berita yang bernas. Terus terang dan kritis terhadap pemerintah, jika perlu, tapi juga menampilkan tulisan-tulisan aktual—dan kolom-kolom pemikiran Islam—yang merekam perkembangan Islam di Indonesia, dan di dunia internasional. Tercatat nama-nama anak muda yang berkiprah di bidang pemikiran dan pergerakan Islam pada masa itu yang bergabung di dalamnya. Ada Mas Syafii Anwar, Ihsan Ali-Fauzi, Hamid Basyaib, Zainal Abidin Bagir, Luthfi Assyaukanie, Tulus Wijanarko, Abdul Rahim Ghazali, Hamid Abidin, dan sebagainya. 

 

Majalah Ummat segera menarik perhatian khalayak. Berita-berita dan analisis-analisisnya yang tajam terasa relevan bagi masyarakat Indonesia yang sudah menunjukkan keresahan politik pada masa itu. Hingga suatu saat majalah ini mempublikasikan Amien Rais sebagai Man of the Year-nya—yakni pada bulan Desember 1997, kurang dari setahun sebelum reformasi. Pemilihan ini belakangan terbukti menjadi  salah satu tonggak bagi tampilnya Amien Rais di panggung Reformasi pada tahun 1998. Di sini peran Majalah Ummat cukup krusial. Dan hal ini tak bisa dipisahkan dari peran Pak Abdillah Toha, sebagai pendiri nya dan, belakangan, tokoh yang mendorong peran Amien Rais dan PAN setelah masa-masa penuh pergolakan itu.

 

Tapi, bukan Pak Abdillah jika berhenti bersikap kritis. Sikap kritisnya itu tidak berhenti, bahkan terhadap kolega dan sahabat seperjuangannya. Tak terkecuali terhadap Pak Amien Rais, tokoh utama PAN yang juga sahabatnya. Ketika Pak Abdillah merasa bahwa kepemimpinan partai sudah menunjukkan gejala-gejala  autoritarianisme dan penyimpangan arah partai, Pak Abdillah tak segan-segan mengkritik secara terbuka, saat sedang berada di dalam. Hingga, pada suatu titik, akhirnya beliau melancarkannya secara terbuka. Puncaknya, tertanggal 26 Desember 2018, Pak Abdillah yang menulis dan melayangkan surat terbuka–yang ditandatangani lima pendiri dan penggagas PAN, yakni Abdillah Toha sendiri, Albert Hasibuan, Goenawan Mohamad, Toeti Heraty, dan Zumrotin—yang meminta Amien Rais mundur sebagai ketua partai. Tak urung sebagian anasir internal partai gusar. Hingga, di akhir cerita, Pak Abdillah memutuskan menarik diri dari partai yang beliau sendiri ikut mendirikan dan membesarkannya itu. 

 

Itulah Abdillah Toha. Tak ada yang bisa menghentikan tindak tanduknya, apalagi membungkam protesnya, jika sudah menyangkut apa yang diyakininya sebagai kebenaran yang harus dia perjuangkan.

Share

share icon share icon share icon
Artikel Terpopuler
Penulis

15 May 2026

Selamat Hari Buku Nasional, In ...
Penulis

22 May 2026

Fakta di Balik Hari Kebangkita ...
Penulis

08 June 2026

Kisah Hidup Tokoh Bangsa yang ...
Penulis

08 June 2026

Kisah Hidup Tokoh Bangsa yang ...
Lihat Semua