Artikel Image

Friday, 19 June 2026

Oleh: admin Admin

Friday, 19 June 2026

Oleh: admin Admin

Kisah Hidup Tokoh Bangsa yang Nyaris Senyap (Bagian 5)

Tulisan ini merupakan ungkapan kenangan dan penghormatan dari Bapak Haidar Bagir–Pendiri dan Presiden Direktur Mizan Group–atas sosok Bapak Abdillah Toha, Komisaris Utama dan Pendiri Mizan Group. Pandangan yang disampaikan lahir dari kesaksian dan pengalaman beliau secara langsung bersama almarhum.

Sekarang saatnya saya menceritakan bagian yang memang sengaja saya simpan untuk disampaikan terakhir. Save the best for last, kata orang. Suatu saat, tindakan Pak Abdillah mengejutkan banyak orang, dan menarik perhatian banyak media internasional, cetak maupun audio-visual.

 

Tapi sebelum itu, perlu saya sampaikan, bahwa Pak Abdillah bersama banyak para tokoh reformasi, adalah pendukung hard core Jokowi dalam pemilu presiden. Sejak kampanye, sampai akhirnya Jokowi menjadi Presiden. Tepatnya di masa jabatannya yang pertama. Bahkan, di masa kampanye Pak Jokowi, Pak Abdillah sempat menulis semacam pernyataan terbuka, yang kemudian tersebar luas, berjudul "10 Alasan Mengapa Saya Mendukung Jokowi." 

 

Berbagai tulisan, wawancara, dan cuitan di akun X (Twitter) terus ditayangkan dengan terus terang oleh Pak Abdillah, untuk mendukung Pak Jokowi. Sampai-sampai, akibat dukungannya yang tidak tanggung-tanggung kepada Pak Jokowi itu, Pak Abdillah sering menjadi bulan-bulanan kelompok anti-Jokowi. Tapi, seperti biasa, Pak Abdillah tidak mundur. Memang, Pak Abdillah yang saya kenal adalah orang yang tak terlalu peduli pada apa kata orang tentang dirinya. 

 

Saya tahu sempat pula keduanya bertemu, sebagai dua orang yang saling menghormati. Tak ada lain. Hingga Pak Abdillah, bersama banyak orang lain, merasa, di masa jabatannya yang kedua, Pak Jokowi berubah. Maka Pak Abdillah pun melayangkan sebuah surat terbuka, lagi-lagi lewat akun Twitternya. Cukup menimbulkan reaksi yang ramai, karena kritiknya yang amat terbuka dan terus terang kepada Presiden.

 

Dalam surat yang cukup panjang itu, Pak Abdillah mendaftar berbagai tindakan yang tidak seharusnya—Pak Abdillah bahkan sempat menggunakan kata "aib"—dilakukan Pak Jokowi. Antara lain, memilih pembantu-pembantu yang tidak layak, membiarkan—bahkan bisa disimpulkan—mendukung UU pemilu yang menggerus demokrasi dan nepotis, juga kecenderungan mendahulukan kepentingan pemodal ketimbang kepentingan orang banyak. 

Sebelumnya Pak Abdillah juga merupakan salah seorang yang bersuara keras terhadap langkah-langkah pelemahan KPK yang dilakukan pemerintah.

 

Sebagai respons terhadapnya, Pak Jokowi mengundangnya untuk berdialog empat mata. Yang saya tahu, dialog berjalan dengan baik, tapi Pak Abdillah tidak merasa ganjalan-ganjalannya terjawab dengan memuaskan.

 

Meski tentu saja pendukung Jokowi, apalagi yang berada di lingkaran dalam kekuasaan, mempersoalkan kritik-kritik Pak Abdillah itu, tak sedikit orang melihat kritik-kritik Pak Abdillah sebagai cahaya di jalan demokrasi yang mulai buram.

 

Hingga, suatu saat, kesehatan Pak Abdillah Toha menurun. Beliau diduga pernah mengalami stroke ringan. Tapi, akibatnya, Pak Abdillah mulai terkena demensia. Masih bisa berkomunikasi seperlunya. Tapi beliau berhenti membaca dan menulis. Bahkan juga hanya untuk berkomunikasi lewat ponsel. Aktivitas pun berkurang. Beliau lebih banyak tinggal di rumah, bersama keluarganya. Sesekali saja keluar rumah bersama saudara-saudara dan anggota keluarga besarnya. Tak lagi kita membaca tulisan beliau, atau mendengar kritik-kritik yang amat diperlukan bangsa ini.

 

Saya berandai-andai, jika saja Pak Abdillah masih sehat, pasti kebijakan-kebijakan pemerintah yang sekarang tak akan bebas dari kritik-kritiknya. Khususnya di bidang ekonomi, yang memang menjadi keahlian Pak Abdillah Toha. Apalagi di suatu masa seperti sekarang, ketika semua anasir demokrasi hendak (sudah?) dikooptasi oleh penguasa, dan ekonomi seolah dikelola dengan asal-asalan.

 

Sampai, akhirnya, Indonesia sama sekali kehilangan salah seorang tokohnya. Yang cerdas, berani, dan tak sarat pamrih ketika berhadapan dengan penyimpangan-penyimpangan oleh penguasa.

 

Penutup:

 

Dua tahunan lalu, buku terbaru saya terbit. Judulnya, Makrifat Sakit dan Kematian. Setelah mendapatkannya, Pak Abdillah berkomentar: "Wah, Dar. Mbok nulis buku Makrifat Sehat dan Kehidupan"? Kira-kira Pak Abdillah ingin mengatakan, menulis buku kok ngambil topik "horor" begitu. Saya tertawa, sambil menjawab: Loh, justru, jika orang memakrifati—memahami makna atau hikmah—sakit dan kematian, maka dia akan bisa menanggung, bahkan menyambutnya dengan sebaik-baiknya.

 

Tapi, barangkali Pak Abdillah memang tak terlalu membutuhkan pembahasan di buku saya itu. Apalagi, jauh sebelum itu—bahkan hampir sepuluh tahun sebelumnya—Pak Abdillah pernah membuat catatan ini:

 

"Sesungguhnya kematian itu bukanlah hal yang perlu ditakutkan bila kita memandang kematian sebagai perjalanan pulang ke tempat asal kita. Sebagai musafir dalam sebuah perjalanan yang panjang, bagian dari perjalanan kita yang paling menyenangkan adalah ketika kita lelah dan sampai pada saat kita harus pulang ke rumah asal. Berani hidup dengan segala konsekuensinya lebih utama dari berani mati. Wallahu a'lam." – Abdillah Toha, 06 Oktober, 2018.

 

Apalagi sekarang. Saya baru bisa membuat teori tentang sakit dan kematian. Pak Abdillah sudah mengalaminya. Pak Abdillah telah berada di suatu alam, yang difirmankan Tuhan sendiri, "pandanganmu tajam (menembus) tirai." 

 

Ya. Pak Abdillah telah "beristirahat dari perjalanan panjang, dan kembali lagi ke rumah asal." Tempat segala misteri terpecahkan, dan ketentraman abadi merupakan tujuan. Dengan tenang, di sisi Tuhannya.

 

Share

share icon share icon share icon
Artikel Terpopuler
Penulis

15 May 2026

Selamat Hari Buku Nasional, In ...
Penulis

22 May 2026

Fakta di Balik Hari Kebangkita ...
Penulis

08 June 2026

Kisah Hidup Tokoh Bangsa yang ...
Penulis

08 June 2026

Kisah Hidup Tokoh Bangsa yang ...
Penulis

19 June 2026

Kisah Hidup Tokoh Bangsa yang ...
Lihat Semua