Pada Rabu, 12 Agustus 2026, rangkaian Pekan Sastra Jakarta berlanjut dengan sesi Siasat Sastra Merawat Ingatan di Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra HB Jassin, Jakarta Pusat. Sesi ini menghadirkan Iksaka Banu, Sasti Gotama, dan Kurnia Effendi untuk membicarakan proses kreatif dalam menulis sejarah melalui sastra. Iksaka Banu dan Kurnia Effendi merupakan penulis Pangeran dari Timur, sementara Sasti Gotama merupakan penulis Ingatan Ikan-Ikan dan Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-Kupu.
Diskusi dimulai dengan cerita perjalanan ketertarikan Banu pada sejarah kolonial. Banu menjelaskan perhatiannya terhadap orang-orang kecil yang kerap luput dari catatan sejarah menjadi awal ketertarikannya pada sejarah kolonial. Menurutnya, orang-orang kecil itu justru turut memiliki pengaruh dalam berbagai peristiwa pada zamannya. Dari ketertarikan tersebut, ia kemudian mendalami sejarah kolonial yang kemudian mendorongnya untuk menulis fiksi sejarah.
Bagi Banu, fiksi sejarah juga dapat menjadi pintu masuk bagi pembaca untuk mengenal sejarah lebih jauh. Cerita yang menarik dapat memunculkan rasa ingin tahu dan mendorong pembaca mencari sumber lain, seperti membaca buku sejarah. Pendekatan ini pula yang digunakan dalam penulisan Pangeran dari Timur.
Dalam menulis fiksi sejarah, Banu menjelaskan tiga pendekatan versinya, yakni dramatisasi biografi, dekonstruksi, dan infiltrasi sejarah. Pangeran dari Timur menggunakan pendekatan terakhir, dengan menempatkan tokoh-tokoh fiktif di tengah latar dan peristiwa sejarah yang tetap berpijak pada fakta.
Hal serupa terlihat dari ilustrasi timeline panjang yang dibawa Banu dan Kurnia dalam sesi acara tersebut. Rangkaian peristiwa dari masa kolonial hingga kemerdekaan disusun secara rinci untuk membantu mereka memahami konteks cerita. “Begitu kita tahu tahunnya dengan detail, kita bisa leluasa keluar masuk timeline untuk buat situasi yang fiktif,” jelas Banu saat menjelaskan timeline sejarah yang ia rancang bersama Kurnia.

Kurnia juga turut menekankan pentingnya pendekatan point of view yang mendalam agar pembaca dapat merasakan seolah-olah berada di dalam cerita. Untuk mendalami latar kehidupan Raden Saleh, ia bahkan melakukan napak tilas ke Belanda pada 2017.
Sementara itu, Sasti Gotama menjelaskan awal mula ia menulis Ingatan Ikan-Ikan berangkat dari keresahannya terhadap perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan tetapi tidak memiliki ruang untuk bersuara. “Mereka yang dibungkam itu butuh disuarakan. Makanya kisah-kisah perempuan itu aku tulis dan memberikan suara bagi mereka,” ungkapnya.
Dalam Ingatan Ikan-Ikan, Sasti menggunakan pendekatan fiksi spekulatif dengan menggabungkan sejarah, medis, dan fiksi ilmiah. Ia menggunakan metafora pencucian ingatan untuk menggambarkan bagaimana bagian tertentu dari sejarah dapat dihapus secara perlahan dan sistematis.
Sesi ini mengajak pembaca untuk melihat bahwa fiksi sejarah juga bisa dipandang sebagai cara untuk menghadirkan kembali suasana masa lalu sekaligus membicarakan hal-hal yang sulit disampaikan secara langsung. Meski dalam penulisannya memberi ruang bagi imajinasi bagi penulis, detail faktual tetap menjadi pijakan dalam membangun cerita.
Sastra menjadi salah satu cara untuk merawat hal-hal yang mungkin luput dari ingatan. Kurnia menegaskan bahwa sastra yang berdasarkan fakta dan data itu akan beri kelengkapan pengetahuan bagi pembaca. Ia juga menambahkan bahwa tugas penulis bukan hanya menceritakan apa yang mereka sukai, tetapi juga menghadirkan kisah-kisah yang dekat dengan kehidupan dan layak untuk terus diingat.