
Dua puluh lima tahun adalah perjalanan yang tidak singkat sebuah karya untuk terus menemukan pembacanya. Pada Minggu, 3 Mei 2026, Dia.Lo.Gue Artspace, Kemang, Jakarta Selatan, terlihat berbeda dari biasanya. Ruang kreatif yang biasanya dikenal sebagai galeri seni dan kafe tersebut mendapat kesempatan untuk menjadi tuan rumah untuk “Festival Supernova”. Festival tersebut diselenggarakan sebagai bentuk perayaan 25 tahun perjalanan seri novel legendaris karya Dee Lestari yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka. Supernova sendiri adalah seri novel yang memadukan unsur kehidupan dari sains sampai spiritualitas menjadi satu semesta yang besar. Memulai perjalanan sejak 2001, novel tersebut diawali dari Kesatria, Putri, Dan Bintang Jatuh (2001), Akar (2004), Petir (2005), Partikel (2011), Gelombang (2014), dan yang terakhir Intelegensi Embun Pagi (2016).

Novel, ilustrasi, hingga mind map proses kreatif pada saat Dee Lestari menulis seri Supernova memenuhi ruang pameran tersebut. Para pengunjung yang memadati ruang pameran turut menyaksikan perjalanan seri Supernova dari akarnya. Pameran tersebut memiliki arti tersendiri bagi para pembaca seri ini. Mereka diajak untuk bertumbuh bersama Supernova. Selain itu, acara ini juga memiliki serangkaian acara yang dihadiri oleh beberapa pengisi acara seperti komunitas berpuisi, menulis, hingga para pembaca setia Supernova.
Tak hanya itu, di hadapan para pengunjung yang memadati ruang pameran, Dee Lestari tampil hangat membuka acara “Meretas Supernova” dengan refleksi mendalam sebagai penulis seri tersebut. Baginya, Supernova bukan sekadar karya, Supernova adalah titik balik hidupnya sebagai penulis, "Supernova adalah tonggak dan juga gerbang masuk ke dalam dunia tulis-menulis yang sebetulnya sudah saya sukai sejak kecil," ungkapnya.
Selain itu, hal yang membuat Supernova terasa istimewa adalah fakta bahwa Supernova lahir dari sebuah keberanian yang tak biasa. Dee Lestari menceritakan bahwa Supernova lahir dari pertanyaan besar yang berkecamuk dalam hidupnya. Ia menambahkan, Supernova sendiri adalah karya yang memiliki banyak lapisan makna yang memungkinkan setiap pembaca dapat menemukan relevansinya masing-masing, “Supernova ini lahir dari pertanyaan besar dan kegelisahan yang dapat ditemukan di setiap manusia,” jelasnya.
Kini, sudah dua setengah dekade perjalanan Supernova, Dee Lestari mengaku terharu sekaligus takjub, "Rasanya tentu terharu dan saya juga kagum sendiri. Kok bisa ya, orang masih pada baca Supernova. Karena seri ini kan sudah lama," candanya. Namun di balik rasa takjub dan haru, tentu ada kebahagiaan tersendiri, karena pesan-pesan di dalam seri Supernova tetap relevan hingga saat ini.
Kebahagiaan itu juga dirasakan oleh pembaca yang hadir. Di penghujung acara, salah satu pembaca bertanya akan kemungkinan keberlanjutan seri Supernova. Menanggapi pertanyaan tersebut, Dee Lestari mengaku ikut terbakar semangatnya melihat antusiasme dan kemeriahan pada hari itu, “Doakan saja, ya,” tutupnya.