Bagi warga +62, bahasa Indonesia adalah bahasa ibu yang udah ditanamkan sejak kecil. Sebagai bahasa utama di negara kita, tentu wajib hukumnya untuk paham gimana menggunakan bahasa satu ini–setidaknya dalam penggunaan sehari-hari.

 

Namun meskipun bahasa Indonesia adalah bahasa ibu di negara kita, nyatanya masih banyak lho yang suka keblinger kalo disuruh menyelami seluk-beluknya lebih dalem. Contoh paling sederhananya tentu waktu duduk di bangku sekolah. Karena merasa udah paham, banyak yang akhirnya menyepelekan pelajaran bahasa Indonesia dan jadi berdampak ke pemahaman akan bahasa itu sendiri. Padahal pada kenyataannya, bahasa Indonesia (ataupun bahasa-bahasa lain di dunia) punya sejarah dan kompleksitas yang nggak bisa dipandang sebelah mata.

 

Ivan Lanin adalah salah satu tokoh populer yang punya concern lebih di bidang bahasa, khususnya bahasa Indonesia. Sebagai seorang pencinta bahasa, beliau sering banget ngasih info seputar bahasa Indonesia di media sosialnya, seperti Twitter dan Instagram.

 

Kecintaannya terhadap bahasa juga menuntun beliau untuk kemudian menerbitkan buku Recehan Bahasa oleh Penerbit Qanita dan mendirikan Narabahasa—perusahaan rintisan yang menyediakan layanan edukasi, konsultasi, publikasi, kreasi, dan aplikasi keterampilan berbahasa Indonesia.

 

Meskipun dalam kesehariannya di media sosial sering menggunakan bahasa yang baku dan benar, Ivan Lanin (atau kerap dipanggil Uda) juga suka ikutan ngomong bahasa kekinian. Baginya, itu adalah bagian dari fenomena atau kreativitas bahasa yang unik dan tidak perlu dipandang buruk.

 

Salah satu fungsi bahasa sebagai sarana menghibur membuat bahasa ataupun istilah kekinian yang sering merebak di media sosial nggak seharusnya dianggap buruk. Sebaliknya, bahasa sebagai sebuah instrumen yang luwes membuat siapa pun boleh untuk melakukan permainan kata-kata.